Difference between revisions 11380113 and 11551292 on idwiki

{{Infobox film
|name           = Badik Titipan Ayah 
|image          = Badik Titipan Ayah.jpg
|image size     =
|alt            =
|caption        = 
|director       = [[Dedi Setiadi]] 
|producer       = [[Deddy Mizwar]]
(contracted; show full)

Film ini mengangkat tema tentang budaya siri’ yang dijunjung tinggi dan sangat dijaga oleh masyarakat suku Bugis-Makassar. Film yang diprakarsai oleh Deddy Mizwar ini merupakan suatu karya yang jarang ditemukan karena menguak tentang kearifan budaya lokal Bugis-Makassar.
  

Film ini memicu animo dan antusias penonton terutama di daerah Makassar karena merasa penasaran dengan judul yang diusung oleh produser. Nuansa kedaerahan sangat kental di dalam karya ini, penggambaran tentang bagaimana masyarakat Bugis-Makassar menyikapi dan menyelesaikan masalah yang sangat fatal yang menyangkut harkat dan martabat keluarga.  

== Alur Cerita ==
Diceritakan, putri tunggal Karaeng Tiro dan Karaeng Caya yaitu Andi Tenri memutuskan untuk silariang (kawin lari) bersama kekasihnya Andi Firman yang telah menghamilinya atas permintaannya sendiri. Alasan mengapa ia melakukan silariang (kawin lari) adalah karena ia sadar bahwa rencananya untuk menjadikan bayi yang ada di dalam kandungannya sebagai alasan untuk menyatukan cintanya bersama Andi Firman akan sia-sia dan bahkan akan memicu kemarahan tettanya (ayahnya), Karaeng Tiro.

Mengetahui bahwa keluarganya telah nipakasiri’ (dipermalukan) karena putri semata wayangnya Andi Tenri silariang (kawin lari) bersama kekasihnya, Karaeng Tiro lalu meminta putra tunggalnya Andi Aso untuk menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan cara dan prinsip suku Bugis-Makassar yaitu dengan menggunakan badik. Karaeng Tiro mewariskan badik pusaka I La Sanrego yang merupakan warisan keluarga yang telah memakan banyak darah musuh dan penghianat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagi orang Bugis-Makassar, persoalan siri’ adalah persoalan adat, dan harus diselesaikan secara adat.  

Perasaan dilema yang melanda Andi Aso antara rasa sayang kepada adik perempuannya dan upaya melaksanakan amanah tersirat sang ayahanda untuk menyelesaikan permasalahan ini demi menegakkan kembali harga diri dan martabat keluarga yang telah dinodai oleh Andi Tenri bersama kekasihnya Andi Firman. Andi Aso didampingi oleh anak angkat Karaeng Tiro bernama Limpo kemudian mencari Andi Tenri dan Andi Firman hingga ke kota Makassar.  

Beberapa waktu beselang Karaeng Tiro Wafat karena serangan jantung akibat dipermalukan oleh seorang warga yang menanyakan keberadaan Andi Tenri ketika menuju ke acara perkawinan kerabatnya. Mendengar kabar bahwa ayahnya (tettanya) mennggal dunia Andi Tenri dan sang suami nekad membawa bayi mereka yang baru lahir datang ke Bira, kampung halamannya untuk melihat jenazah tettanya (ayahnya) untuk yang terakhir kalinya.  

Andi Aso dan Daeng Limpo menyambut kedatangan mereka dengan amarah yang membara. Badik pun dihunus oleh Andi Aso, bersiap melakukan perhitungan dengan Andi Firman yang juga sudah menghunus badiknya. “Ingat, badik yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, pantang dimasukkan kembali sebelum melaksanakan tugasnya!,” tegas Daeng Limpo dengan mata menyala. Keadaan menjadi sangat tegang. Tanpa rasa takut sedikitpun, Andi Tenri maju menghadapi Badik yang terhunus di tangan sang kakak, siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai wujud tanggungjawab dan reisiko atas perbuatannya.  

Dengan wajah yang murung dan tetesan air mata di pipinya yang belum mengering, Karaeng Caya melerai konflik batin antar kedua anaknya beserta menantunya. Kemudian menghampiri jenazah suaminya sambil menggendong cucu pertamanya dari rahim putri tunggalnya dan memohon kepada jenazah suaminya agar memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh putri tunggal mereka.  

Pada akhirnya Limpo menghunuskan serta menancapkan ujung badik di perutnya, sebagai tindakan karena ia tidak mampu mengemban tugas untuk memulihkan Siri’ yang menjadi aib bagi keluarga Karaeng Tiro dan agar badik I La Sanrego dapat kembali masuk kedalam sarungnya karena telah melaksanakan yaitu dengan
meneteskan darah.

== Pemeran ==
* '''Tika Bravani''' sebagai Andi Tenri (putri tunggal Karaeng Tiro dan Karaeng Caya) 
(contracted; show full)* [[Bulukumba]]
* [[Makassar]]
* [[Maros]]
== Referensi ==
{{ref-list}}
== Pranala Luar ==
*[http://facebook.com/pages/Badik-Titipan-Ayah/154336601256613 Facebook Badik Titipan Ayah]

{{televisi-stub}}
[[Kategori:Film televisi]]
[[Kategori:SCTV]]