Difference between revisions 12213671 and 15177976 on idwiki

{{tanpa_referensi|date=6 Agustus 2012}}
{{rapikan}}
BEDHOYO MATARAM SENOPATEN DIRODO METO
Dikutip oleh  : Agus Haryo S.
(Fananie Z., 2005, Restrukturisasi Budaya Jawa ; Perspektif KGPAA MN I, hal 67-69)


Peperangan Sitakepyak Rembang adalah peperangan besar kedua yang dialami [[RM.Said]] ([[Pangeran Sambernyowo]]) yang ketika itu berumur 30 tahun.Perang ini adalah perang melawan 2 detachement Kumpeni Belanda pimpinan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beimen di sebelah selatan negeri Rembang tepatnya di Hutan Sitakepyak. Perang terjadi pada hari Senin Pahing 17 Sura tahun Wawu 1681 J/ 1756 M yang ditanda(contracted; show full)

Dirodo Meto adalah tarian Si Gajah Ngamuk, sebuah gerak tari simbolis mengenang perjuangan dalam mempertahankan bukan saja nyawa, melainkan juga harga diri RM Said dan rakyat Mataram terhadap penindasan VOC Belanda dan kroninya ketika itu.

Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto, adalah maha karya ke 2 dari 3 tarian sakral yang telah diciptakan oleh RM.Said (KGPAA Mangkoenagoro I), yaitu
  :
1.	Bedhoyo Mataram-Senopaten [[Anglirmendung]] (7 penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita), sebagai monumen perjuangan perang Kesatrian Ponorogo.
2.	Bedhoyo Mataram-Senopaten Dirodometo (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak.
3.	Bedhoyo Mataram-Senopaten [[Sukopratomo]] (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), monumen perjuangan perang bedah benteng Kumpeni Yogyakarta.