Difference between revisions 13451097 and 13451123 on idwiki

= Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah =

'''Perhimpunan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah''' ''(Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah)'' adalah sebuah [[Daftar organisasi massa Islam di Indonesia|organisasi Islam]] yang besar di [[Indonesia]]. Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H) di Jakarta oleh SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD ASSOORKATY AL-ANSHARY. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Perhimpunan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah mempunyai sifat khusus, yaitu Perhimpunan yang berakidah Islamiyyah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, di bidang pendidikan, pengajaran, serta social dan dakwah bertingkat nasional.

== Sejarah ==
Syekh Ahmad Surkati tiba di Indonesia bersama dua kawannya pada tahun 1911: Syeikh Muhammad Tayyib al-Maghribi dan Syeikh Muhammad bin Abdulhamid al-Sudani. Di negeri barunya ini, Syeikh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syeikh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka [[Jamiat Kheir]] di Jakarta dan Bogor.

Berkat kepemimpinan dan bimbingan Syekh Ahmad Surkati, dalam waktu satu tahun, sekolah-sekolah itu maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya tiga tahun di [[Jamiat Kheir]]

Syekh Ahmad Surkati memutuskan mundur dari [[Jamiat Kheir]], pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan di hari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama menjadiJam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Islamiyyah).

Setelah tiga tahun berdiri, Perhimpunan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah mulai membuka sekolah dan cabang-cabang organisasi di banyak kota di Pulau Jawa. Setiap cabang ditandai dengan berdirinya sekolah (madrasah). Cabang pertama di Tegal (Jawa Tengah) pada 1917, dimana madrasahnya dipimpin oleh murid Syekh Ahmad Surkati angkatan pertama, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Kemudian diikuti dengan cabang-cabang Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya, dan kota-kota lainnya.

Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama [[Muhammadiyah]] dan [[Persatuan Islam|Persatuan Islam (Persis)]]. Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaharu Islam Indonesia.” Mereka bertiga juga berkawan akrab. Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan [[Ahmad Dahlan]] adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi.

Namun demikian, menurut sejarawan Belanda Guillaume Frédéric Pijper dalam bukunya Studiën over de geschiedenis van de Islam in Indonesia 1900-1950, yang benar-benar merupakan gerakan pembaharuan dalam pemikiran dan ada persamaannya dengan gerakan reformisme di Mesir adalah Gerakan Pembaharuan Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Sedang Muhammadiyah, kata Pijper, sebetulnya timbul sebagai reaksi terhadap politik pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu yang berusaha untuk menasranikan orang Indonesia.

[[Muhammadiyah]] lebih banyak peranannya pada pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Sedang Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah, begitu lahir seketika terlibat dengan berbagai masalah diniyah. Ofensif Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah kemudian telah menempatkannya sebagai pendobrak, hingga pembinaan organisasi agak tersendat. Al-Irsyad juga terlibat dalam permasalahan di kalangan keturunan Arab, hingga sampai dewasa ini ada salah paham bahwa Al-  Irsyad merupakan organisasi para keturunan Arab.

Seperti yang diajarkan Muhammad Abduh di Mesir, Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah mementingkan pelajaran Bahasa Arab sebagai alat utama untuk memahami Islam dri sumber-sumber pokoknya. Dalam sekolah-sekolah Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah dikembangkan jalan pikiran anak-anak didik dengan menekankan pengertian dan daya kritik. Tekanan pendidikan diletakkan pada tauhid, fikih, dan sejarah.

Sejak didirikannya, Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah bertujuan memurnikan tauhid, ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Untuk merealisir tujuan ini, Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah sudah mendirikan ratusan sekolah formal dan lembaga pendidikan non-formal di seluruh Indonesia. Dan dalam perkembangannya kemudian, kegiatan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah juga merambah bidang kesehatan, dengan mendirikan beberapa rumah sakit. Yang terbesar saat ini adalah RSU Al-  Irsyad di Surabaya dan RS Siti Khadijah di Pekalongan.

Namun perkembangan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah yang awalnya naik pesat, kemudian menurun drastic bersamaan dengan masuknya pasukan pendudukan Jepang ke Indonesia. Apalagi setelah Syekh Ahmad Surkati wafat pada 1943, dan revolusi fisik sejak 1945. Banyak sekolah Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah hancur, diporak-porandakan Belanda karena menjadi markas laskar pejuang kemerdekaan. Sementara beberapa gedung milik Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah yang dirampas Belanda, sekarang berpindah tangan, tanpa bisa diambil lagi oleh Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah.

Sampai 1985, Al-Irsyad Al-  Islamiyyah tinggal memiliki 14 cabang, yang seluruhnya berada di Jawa. Namun berkat kegigihan para aktifisnya yang sudah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah berkembang kembali, sejak 1986. Puluhan cabang baru berdiri. Dan kini tercatat sekitar 130 cabang, dari Sumatera ke Papua.

Di awal berdirinya di tahun 1914, Perhimpunan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah dipimpin oleh ketua umum Salim Awad Balweel.

Dalam Muktamar terakhir di Bandung (2000), yang dibuka [[Abdurrahman Wahid|Presiden Abdurrahman Wahid]] di [[Istana Negara]] pada 3 Juli 2000, terpilih Ir. H. Hisyam Thalib sebagai ketua umum baru, menggantikan H. Geys Amar SH yang telah menjabat posisi itu selama empat periode (1982-2000).

Perhimpunan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah memiliki empat organ aktif yang menggarap segmen anggota masing-masing. Yaitu [[Wanita Al-  Irsyad, ]], [[Pemuda Al-  Irsyad, ]], [[Puteri Al-  Irsyad]], dan [[Pelajar Al-  Irsyad]]. Peran masing-masing organisasi yang tengah menuju otonomisasi ini (sesuai amanat Muktamar 2000), cukup besar bagi bangsa. Pemuda Al-  Irsyad misalnya, ikut aktif menumpas pemberontakan [[Gerakan 30 September|G-30-S PKI]] bersama komponen bangsa lainnya. Sedang [[Pelajar Al-  Irsyad]] termasuk salah satu eksponen 1966 yang ikut aktif melahirkan [[Gerakan mahasiswa di Indonesia|KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia)]].

Di luar empat badan otonom tersebut, Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah memiliki majelis-majelis, yaitu Majelis Pendidikan & Pengajaran, Majelis Dakwah, Majelis Sosial dan Ekonomi, Majelis Awqaf dan Yayasan, dan Majelis Hubungan Luar Negeri. Di luar itu ada pula Lembaga Istisyariyah, yang beranggotakan tokoh-tokoh senior Al-  Irsyad dan kalangan ahli).

== Peranan ==
Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah juga berperan penting sebagai salah satu pemrakarsa Muktamar Islam I di Cirebon pada 1922, bersama [[Syarekat Islam]] dan [[Muhammadiyah]]. Sejak itu pula, Syekh [[Ahmad Surkati]] bersahabat dekat dengan [[Agus Salim|H. Agus Salim]] dan [[Oemar Said Tjokroaminoto|H.O.S. Tjokroaminoto]]. Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah juga aktif dalam pembentuan MIAI (Majlis Islam ‘A’laa Indonesia) di zaman pendudukan Jepang, Badan Kongres Muslimin Indonesia (BKMI) dan lain-lain, sampai juga pada [[Majelis Syuro Muslimin Indonesia|Masyumi]], Badan Kontak Organisasi Islam (BKOI) dan Amal Muslimin.

Di tengah-tengah suasana Muktamar Islam di Cirebon, diadakan perdebatan antara Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah dan Syarekat Islam Merah, dengan tema: “Dengan apa Indonesia ini bisa merdeka. Dengan Islamisme kah atau Komunisme?” Al-Irsyad diwakili oleh Syekh Ahmad Surkati, Umar Sulaiman Naji dan Abdullah Badjerei, sedang SI Merah diwakili Semaun, Hasan, dan Sanusi.

Selaku penganut paham Pan Islam, tentu Syekh Ahmad Surkati bertahan dengan Islamisme. Semaun berpendirian, hanya dengan komunisme lah Indonesia bisa merdeka. Dua jam perdebatan berlangsung, tidak ditemukan titik temu. Namun Syekh Ahmad Surkati ternyata menghargai positif pendirian Semaun. “Saya suka sekali orang ini, karena keyakinannya yang kokoh dan jujur bahwa hanya dengan komunisme lah tanah airnya dapat dimerdekakan!”

Menurut [[Sutomo|Bung Tomo]] Al-  Irsyad adalah gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia. Al-  Irsyad turut dalam usaha-usaha didalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda hingga bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Hal senada juga diungkapkan oleh Maskun, ketua Umum Perintis Kemerdekaan Indonesia 1966, bahwa salah satu perjuangan Al-  Irsyad adalah juga ikut menentang Imperialisme dan Kolonialisme Belanda

Amaliah Al-  Irsyad sebagai sebuah organisasi konsisten ditujukan untuk meningkatkan apresiasi muslim terhadap ajaran Islam. dalam konteks ini Al-Irsyad dengan tokoh centralnya Surkati telah menjadi sumber ilham bagi generasi muda Islam terpelajar yang bangkit secara terorganisir pada tahun 1925 lewat wadah [[Jong Islamieten Bond]] (JIB).

== Tokoh Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah ==
Tercatat banyak lulusan Al-  Irsyad yang telah memainkan peran penting di berbagai bidang. Yang turut berperan penting dalam modernisme Islam di Indonesia antara lain:

[[Muhammad Yunus Anis]]: Alumnus Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang menonjol dari Gerakan [[Muhammadiyah]]. Ia mendapat kehormatan dijuluki “tulang punggung Muhammadiyah” karena pengabdiannya sebagai sekretaris jenderal di organisasi tersebut selama 25 tahun.

[[Muhammad Hasbi|Prof. Dr. T.M. Hasby As-Shiddique]]: Putera asli Aceh, penulis terkenal dalam masalah hadist, tafsir, dan fikih Islam moderen. Guru besar di [[Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta|IAIN Yogyakarta]] ini bahkan pernah menjabat Rektor Universitas Al-Irsyad di Solo (sekarang sudah tutup)

[[Abdul Kahar Muzakkar|Prof. Kahar Muzakkir]]: Berasal dari Yogyakarta. Lulus dari Madrasah Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah, Kahar Muzakkir melanjutkan studinya di Dar al-Ulum di Kairo. Ia sangat aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan termasuk penandatangan Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Kemudian ia menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.

[[Rasjidi|Muhammad Rasjidi]]: [[Daftar Menteri Agama Indonesia|Menteri Agama Republik Indonesia]] yang pertama, berasal dari Yogyakarta. Ia pernah menjadi professor di [[Universitas McGill|McGill University]] di Montreal, Kanada, dan juga mengajar di Universitas Indonesia, Jakarta. Semasa hidupnya menulis banyak buku.

Prof. Farid Ma’ruf: Asli Yogyakarta, profesor di IAIN, yang juga salah satu tokoh besar [[Muhammadiyah]] di awal-awal berdirinya. Lulusan Madrasah Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah ini sempat menjabat [[Kementerian Agama Republik Indonesia|Direktur Jenderal Urusan Haji di Departemen Agama]].

Al-Ustadz Umar Hubeis: Jabatan pertamanya adalah sebagai Direktur Madrasah Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah Surabaya. Di waktu yang bersamaan ia aktif di [[Majelis Syuro Muslimin Indonesia|Masyumi]] (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Umar Hubeis bahkan pernah menjadi anggota [[Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia|DPR]] mewakili [[Majelis Syuro Muslimin Indonesia|Masyumi]]. Ia juga menjadi professor di Universitas Airlangga, Surabaya. Semasa ia hidupnya beliau juga menulis beberapa buku, terutama fikih. Yang terkenal adalah Kitab Fatawa.

Said bin Abdullah bin Thalib al-Hamdani: Lulusan Al-  Irsyad Al-  Islamiyyah Pekalongan ini sangat menguasai fikih dan menjadi professor di [[Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta|Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta]]. Ia juga menulis buku-buku fikih. Di kalangan cendekiawan dan intelektual Islam Indonesia, ia dijuluki Faqih Al-  Irsyadiyin (cendekiawan terkemuka di bidang hukum Islam dari Al-Irsyad). Sayang kebanyakan bukunya yang umumnya ditulis dalam bahasa Arab, belum diterjemahkan.

[[Abdurrahman Baswedan]]: Pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) dan aktifis [[Majelis Syuro Muslimin Indonesia|Masyumi]] ini pernah menjadi Wakil Menteri Penerangan RI.

H.M Saleh Suaidy, salah satu tokoh yang dikenal pendorong proklamasi kemerdakaan RI. Beliau juga dikenal sebagai pendiri [[Majelis Syuro Muslimin Indonesia|Partai Masyumi]] dan pendiri [[Kementerian Agama Republik Indonesia|Departemen Agama RI]].

Ibu Nurjanah, salah seorang siswi Al-  Irsyad yang banyak melahirkan organisasi wanita Islam bertaraf Nasional. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir wanita pertama yang dimiliki Indonesia dan wanita pertama yang berani menyuarakan ayat-ayat Al-Qur’an di radio NIROM (sekarang [[Radio Republik Indonesia|RRI]]) pada masa penjajahan Jepang. Beliau pula salah satu tokoh pencetus [[Musabaqah Tilawatil Quran|Musbaqoh Al-Qur’an]] (MTQ).

== Lihat Pula ==
[[Muhammadiyah]]

[[Persatuan Islam]]

[[Nahdlatul 'Ulama|Nahdatul Ulama]]

[[Majelis Ulama Indonesia]]

== Pranala Luar ==
[http://alirsyad.org/ situs web resmi Al-Irsyad Al-Islamiyyah]