Difference between revisions 6598522 and 6598588 on idwiki


{{tidak memenuhi kriteria kelayakan|d=4|m=04|y=2013|i=14|ket=|kat=Y}}
{{rapikan}}
FORSOLIMA singkatan dari Forum Solidaritas Mahasiswa Medan. Merupakan sebuah organisasi dari kumpulan organisasi mahasiswa yang ada di kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Kelahiran forsolima dimotori oleh Iswan Kaputra, seorang mahasiswa pindahan dari Akademi Komunikasi Yogyakarta ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan di Medan.
(contracted; show full)
Perubahan nama seperti ini biasa dilakukan gerakan mahasiswa pada jaman Orde Baru, demi keamanan para aktifisnya. Beberapa bulan berikutnya FMM berubah nama lagi menjadi Forum Solidaritas Mahasiswa Medan yang disingkat dengan Forsolima, hingga tahun 2006.

Forsolima sangat aktif dalam berbagai diskusi, pelatihan dan pencerahan bagi mahasiswa di kota Medan. Begitu juga Forsolima sangat aktif dalam melakukan kritik keras, demonstrasi dan tulisan di media tentang kesewenangan pemerintahan Orde Baru saat itu. Hingga pada akhirnya para tokoh Forsolima ditangkapi karena dianggap merongrong martabat negara dan penghinaan terdapat kepala negara, menggunakan pasal-pasal karet dalam undang-undang RI, yakni pasal yang biasa disebut hatzai artikelen, atau pasal-pasal subversib dalam undang-undang, yang biasa digunakan oleh para penguasa untuk menjerat lawan-lawan politiknya yang dianggap membahayakan status quo-nya. Padahal para aktifis Forsolima ini hanya melakukan delegasi ke Komisi A DPRD Sumatera Utara, saat itu bersama seorang mahasiswa UGM (Bimo Nugroho) dan 2 orang mahasiswa dari Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM - Sahat Lumbanraja dan Mulana Samosir), untuk menyampaikan aspirasinya tentang kemarahan presiden Soeharto saat di demo mahasiswa di Dresden, Jerman. Forsolima memberikan pernyataan bahwa tidak pantas seorang presiden marah-marah seperti pernyataannya di pesawat saat pulang dari Jerman. Orang yang dituduh presiden, saat itu, memberikan ''puding politik'' pada mahasiswa Jerman, yakni Gunawan Muhammad, Yenni Rosa Damayanti dan Sri Bintang Pamungkas, masih bebas berceramah di berbagai kota di Indonesia, namun para pendukungnya dari Forsolima telah meringkung dalam tahanan.