Revision 10486696 of "Abuya Dimyathi" on idwiki

{{Infobox Ulama Muslim 
|honorific_prefix = Abuya Dimyathi
|image =
|caption =
|title =
|kunya =
|name = Muhammad Dimyathi
|nasab =
|nisbah =
|parents =
|relatives =
|spouse =
|children =
|birth_name =
|birth_date = [[1930]]M
|birth_place = {{negara|Hindia Belanda}} [[Pandeglang]], [[Banten]]
|death_date = [[Jum'at]] 7 [[Sya'ban]] [[1424]]H/3 [[Oktober]] [[2003]]M
|death_place = {{negara|Indonesia}} [[Cadasari, Pandeglang|Cidahu, Cadasari, Pandeglang]], [[Banten]]
|death_cause = 
|resting_place = Cidahu
|other_names = Abuya Dimyathi
|nationality = [[Indonesia]]
|ethnicity = [[Sunda]]
|era = 14 [[Hijriyah]]
|region =
|occupation = Pengajar di [[Pesantren Cidahu]]
|denomination = [[Sunni]]
|jurisprudence = [[Syafi'i]]
|creed =
|movemet =
|main_interests =
|notable_ideas =
|notable_works =
|alma_mater =
|disciple_of =
|awards =
|influences =
|influenced =
|module =
|signature =
}}

'''K.H. Muhammad Dimyathi bin K.H. Muhammad Amin Al-Bantani''', atau dikenal dengan '''Abuya Dimyathi''' atau '''Mbah Dim''' (lahir tahun [[1925]] – meninggal pada tanggal [[3 Oktober]] [[2003]]) adalah seorang [[ulama]] [[Banten]] kharismatik yang juga dikenal sebagai [[sufi]]. Dia berperan sebagai pembimbing para murid dalam menjalani dunia [[tasawuf]].

== Biografi ==
Abuya lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj.Ruqayah. Dia dikenal sangat haus akan ilmu. Karena itu, ia belajar ilmu agama pada banyak pesantren, mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng, Pandeglang, Plamunan hingga Pesantren Sempur, [[Plered, Purwakarta|Plered]], [[Purwakarta]] asuhan [[Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri]].

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kyainya dari para kyai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai ulama ''Khas al-Khas'' atau ''rasikhah''. Ulama yang sikapnya sehari-hari merupakan cerminan dari ilmu yang dikuasainya. Masyarakat Banten menjulukinya juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya Negara Indonesia.

Abuya adalah seorang ''qurra’'' dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau [[salat Tarawih]] di bulan puasa, tidak turun untuk [[sahur]], kecuali setelah mengkhatamkan [[al-Qur’an]] dalam salat.

Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Dia bukan saja mengajarkan ilmu syariah, tetapi juga menjalankan kehidupan sufistik. Tarekat yang dianutnya adalah [[Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah|Naqsabandiyah Qodiriyyah]].

Dalam buku ''Tiga Guru Sufi Tanah Jawa'' karya H. Murtadho Hadi, Abuya Dimyathi digolongkan bersama [[Syekh Muslih bin Abdurrahman al-Maraqi]] ([[Mranggen, Demak]]) dan [[Syekh Romli Tamim]] (Rejoso, [[Jombang]]) sebagai tiga ulama sufi berpengaruh di Jawa. Bahkan, dalam buku Manaqib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam), Abuya yang juga keturunan [[Sultan Maulana Hasanuddin]] dan [[Syarif Hidayatullah]] ini dikenal sebagai ''wali qutub''.

=== Ngaji ===
Sebagai seorang sufi, Abuya mengajarkan jalan spiritual yang unik, yaitu “tarekat ngaji”. Dia secara tegas menyeru,”''Thariqah aing mah ngaji''” (Jalan saya adalah ngaji).

=== Meninggal dunia ===
Abuya Dimyathi meninggal pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 (7 Sya’ban 1424 H) sekitar pukul 03.00 WIB di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.<ref>Majalah Hidayah edisi 114, Februari 2011 hal.64-68</ref>

== Referensi ==
{{reflist}}
{{islam-bio-stub}}
{{lifetime|1925|2003|Dimyathi, Abuya}}

[[Kategori:Tokoh Islam Indonesia]]