Revision 17904681 of "Abu al-Hasan al-Asy'ari" on idwiki

{{Infobox_Philosopher
|  region          = Teologi
|  era             = [[Zaman Kejayaan Islam]]
|  color           = #B0C4DE
|  name             = Abu al-Hasan al-Asy'ari
|image            = الأشعري.png
|image_size       = 185
|alt              = 
|caption          = 
|  birth_date       = [[260]] [[Hijriyah|H]]/[[873]] [[masehi|M]]
|  birth_place = [[Bashrah]]
|  death_date       = [[323]] [[Hijriyah|H]]/[[935]] [[masehi|M]]
|  school_tradition = [[Islam suni]] ([[Hambali]])
|  death_place = [[Baghdad]]
|  School_tradition =  [[Islam Sunni|Sunni]] [[Mazhab Hambali]]
|  main_interests   =  [[Akidah]]{{,}} [[ilmu kalam]]{{,}} [[tafsir]]{{,}} [[yurisprudensi Islam]] {{,}} [[logika]]
|  influences       = [[Abu Ali al-Jubba'i]]{{,}} [[Abdullah bin Sa’id bin Kullab]]{{,}} [[Harits al-Muhasibi]]{{,}} [[Zakaria As-Saji]]{{,}} [[Ibnu Suraij As-Syafi’i]]{{,}} [[Ahmad bin Hanbal]]
|  influenced       = [[Al Ghazali|Abu Hamid Al-Ghazali]]{{,}} [[Fakhruddin Ar-Razi]]{{,}} Seluruh sekolah-sekolah Asy'ariyah}}
'''Abu al-Hasan al-Asy'ari''' ({{lang-ar|
أبو الحسن الأشعري}}, lahir di [[Bashrah]] 260 H/873 M — wafat di [[Baghdad]] 323 H/935 M<ref name="bnf">{{citeweb|url=https://data.bnf.fr/en/12184603/_ali_ibn_isma_il_abu_al-h_asan_al-_as_ari/|title=ʿAlī ibn Ismāʿīl Abū al-Ḥasan al- Ašʿarī (0873-0935)|accessdate=6 Oktober 2020|author=data.bnf}}</ref>) atau lebih dikenal imam Asy'ari adalah seorang [[Ilmu kalam|mutakalim]] yang berperan penting dalam perkembangan teologi [[Asy'ariyah]].

== Biografi ==
Namanya Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin [[Abu Musa al-Asy'ari|Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah]] bin Qais bin Hadhar. adalah salah seorang keturunan dari sahabat [[Muhammad|Rasulullah]] ''Shalallahu ‘alaihi wasallam'', [[Abu Musa Al-Asy'ari]]. Beliau lahir di [[Bashrah]] pada tahun [[260]] H/[[873]] M dan wafat di [[Baghdad]] pada tahun [[324]] H/[[935]] M.<ref name="bnf"/> Sebagian besar hidupnya berada di [[Baghdad]]. 
=== Masa Kecil ===
Ayah beliau, Ismail adalah seorang ulama ahli hadis yang menganut paham Ahlus-Sunnah wal Jama'ah. Hal ini terbukti bahwa ketika Ismail menjelang wafat berwasiat agar al-Asy'ari diasuh oleh [[Zakaria As-Saji]], pakar hadis dan fikih [[mazhab Syafi'i]] yang sangat populer di kota Bashrah.<ref name=":0">{{Cite book|last=Ibnu Asakir|first=|date=1347 H|url=|title=Tabyin Kidzb al-Muftari|location=Damaskus|publisher=Percetakan al-Taufiq|isbn=|pages=35|url-status=live}}</ref>

Pada masa kecilnya, al-Asy'ari selain berguru kepada al-Saji, beliau juga menimba ilmu dari ulama-ulama ahli hadis yang lain, seperti Abdurrhaman bin Khalaf al-Dhabbi, Sahal bin Nuh al-Bashri, Muhammad bin Ya'qub al-Maqburi, dan lain-lain. Hal tersebut mengantarkan al-Asy'ari menjadi ulama yang menguasai [[hadis]], [[tafsir]], [[fikih]], ushul fikih, dan lain-lain.

Hanya saja, setelah beliau berusia 10 tahun, ada unsur asing yang sangat berpengaruh dan bahkan mengubah jalan hidupnya, yaitu kehadiran [[Abu Ali al-Jubba'i]], tokoh [[Muktazilah]] terkemuka di kota [[Bashrah]]. Dalam keluarganya, ia yang menjadi ayah tirinya dengan menikahi ibunya, dan kemudian mengarahkan al-Asy'ari menjadi penganut [[Muktazilah]] hingga berusia 40 tahun.<ref name=":1">{{Cite book|last=Idrus Ramli|first=Muhammad|date=2014|url=|title=Madzhab Al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama'ah?: Jawaban Terhadap Aliran Salafi|location=Surabaya|publisher=Khalista|isbn=9789791353144|pages=16|url-status=live}}</ref>

=== Keluar dari Muktazilah ===
Abu al-Hasan al-Asy'ari mengikuti aliran [[Muktazilah]] hingga berusia 40 tahun. Namun kemudian setelah sekian lama akhirnya al-Asy'ari keluar dari aliran [[Muktazilah]]. Menurut data sejarah yang disampaikan oleh para ulama, seperti [[Ibnu Asakir]], [[:en:Ibn_Khallikan|Syamsuddin ibn Khallikan]], dan [[Tajuddin as-Subuki]], setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi keluarnya al-Asy'ari dari [[Muktazilah]].<ref name=":2">{{Cite book|last=Idrus Ramli|first=Muhammad|date=2014|url=|title=Madzhab Al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama'ah?: Jawaban Terhadap Aliran Salafi|location=Surabaya|publisher=Khalista|isbn=9789791353144|pages=20|url-status=live}}</ref>

==== Ketidakpuasan al-Asy'ari terhadap paham [[Muktazilah]] ====
Abu al-Hasan al-Asy'ari tidak puas dengan paham [[Muktazilah]] yang selalu mendahulukan akal tetapi tidak jarang menemukan jalan buntu dan mudah dipatahkan dengan argumentasi akal yang sama. Ketidakpuasan al-Asy'ari tersebut dapat dilihat dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain riwayat yang menyatakan bahwa sebelum al-Asy'ari keluar dari aliran [[Muktazilah]] beliau tidak keluar rumah selama lima belas hari. Kemudian pada hari Jumat setelahnya beliau keluar ke Masjid Jami' dan menaiki mimbar dengan berpidato: 
{{Quote|Sebenarnya saya telah menghilang dari kalian selama lima belas hari ini. Selama ini saya meneliti dalil-dalil semua ajaran yang ada. Ternyata saya tidak menemukan jalan keluar. Dalil yang satu tidak lebih kuat daripada dalil yang lain. Lalu aku memohon petunjuk kepada Allah dan ternyata Allah memberikan petunjuknya kepadaku untuk meyakini apa yang saya tulis dalam beberapa kitab ini. Mulai saat ini aku mencabut semua ajaran yang selama ini aku yakini.}} Kemudian al-Asy'ari menyerahkan beberapa kitab yang ditulisnya kepada orang-orang di sana. Di antaranya adalah kitab ''al-Luma' fi al-Radd 'ala Ahl al-Zaygh wa al-Bida''', kitab yang memaparkan kerancuan [[Muktazilah]] yang berjudul ''Kasyf al-Astar wa Hatk al-Asrar'', dan kitab-kitab lain.<ref name=":2" />

Ketidakpuasan al-Asy'ari dengan paham [[Muktazilah]] tersebut dapat pula dilihat dengan memperhatikan riwayat lain yang mengisahkan perdebatannya dengan Abu Ali al-Jubba'i, guru yang sekaligus juga ayah tirinya.<ref>{{Cite book|last=Idrus Ramli|first=Muhammad|date=2014|url=|title=Madzhab Al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama'ah?: Jawaban Terhadap Aliran Salafi|location=Surabaya|publisher=Khalista|isbn=9789791353144|pages=21|url-status=live}}</ref>

Abu al-Hasan al-Asy'ari: "Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal dunia, satunya orang mukmin, satunya orang kecil, dan satunya lagi  anak kecil?"

[[Abu Ali Al-jubba’i|Abu Ali Al-Jubba’i]]: "Orang mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir akan celaka, dan anak kecil akan selamat."

Abu al-Hasan al-Asy'ari: "Mungkinkan anak kecil tersebut meminta derajat yang tinggi kepada Allah?"

[[Abu Ali Al-Jubba’i]]: "Oh, tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu, "Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi kamu tidak bisa memperoleh derajat itu.""

Abu Al-Hasan Al-Asy’ari: "Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu.""

[[Abu Ali Al-Jubba’i]]: "Oh tidak bisa, Allah akan menjawab, "Oh bukan begitu, justru Aku telah mengetahui bahwa apabila kamu diberikan umur panjang maka kamu akan durhaka sehingga nantinya kamu akan disiksa. Oleh karena itu demi menjaga masa depanmu Aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu menginjak usia taklif.""

Abu Al-Hasan Al-Asy’ari: "Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku. Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu masih kecil dulu, sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu, dan mengapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir dan akhirnya aku disiksa seperti sekarang ini?""

Mendengar pertanyaan al-Asyari ini, al-Jubba'i menghadapi jalan buntu dan tidak mampu memberikan jawaban.

[[Abu Ali Al-Jubba’i]]: "Kamu hanya bermaksud merusak keyakinan yang telah ada."

Abu Al-Hasan Al-Asy’ari: "Aku tidak bermaksud merusak keyakinan yang selama ini Anda yakini. Akan tetapi, guru tidak mampu menjawab pertanyaanku."

==== Bermimpi bertemu Rasulullah{{SAW}}<ref>{{Cite book|last=Idrus Ramli|first=Muhammad|date=2014|url=|title=Madzhab Al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama'ah?: Jawaban Terhadap Aliran Salafi|location=Surabaya|publisher=Khalista|isbn=9789791353144|pages=22|url-status=live}}</ref> ====
Pada permulaan bulan Ramadhan, al-Asyari tidur dan bermimpi bertemu [[Rasulullah]]{{SAW}}.

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Wahai Ali, tolonglah pendapat, pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar." Setelah terbangun al-Asy'ari merasakan mimpi itu sangat berat dalam pikirannya. Beliau terus memikirkan apa yang dialaminya dalam mimpi.

Pada pertengahan bulan Ramadhan, beliau bermimpi lagi bertemu [[Rasulullah]]{{SAW}}.

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu?"

Abu Al-Hasan Al-Asy'ari menjawab: "Aku telah memberikan pengertian yang benar terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan darimu."

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar."

Setelah terbangun dari tidurnya, al-Asy'ari merasa sangat terbebani dengan mimpi itu sehingga beliau bermaksud meninggalkan ilmu kalam. Beliau akan mengikuti hadis dan terus membaca Al-Qur'an. Tetapi pada malam 27 Ramadhan, tidak seperti biasanya, rasa kantuk yang begitu hebat menyerangnya sehingga beliau pun tertidur. Dalam tidur itu beliau bermimpi betemu [[Rasulullah]]{{SAW}} untuk ketiga kalinya.

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu?"

Abu Al-Hasan Al-Asy'ari menjawab: "Aku telah meninggalkan ilmu kalam dan aku konsentrasi menekuni Al-Qur'an dan hadis."

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Aku tidak menyuruhmu meninggalkan ilmu kalam tetapi aku hanya memerintahmu menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku karena itu yang benar."

Abu Al-Hasan Al-Asy'ari menjawab: "Wahai Rasulullah, bagaimana aku mampu meninggalkan mazhab yang telah aku ketahui masalah-masalah dan dalil-dalilnya sejak tiga puluh tahun yang lalu hanya karena mimpi?"

[[Rasulullah]]{{SAW}} berkata: "Andaikan aku tidak tahu bahwa Allah akan menolongmu dengan pertolongannya, tentu aku menjelaskan kepadamu semua jawaban masalah-masalah (ajaran Muktazilah) itu. Bersungguh-sungguhlah kamu dalam masalah ini, Allah akan menolongmu dengan pertolongannya."

Setelah bangun dari tidurnya, al-Asy'ari berkata: "Selain kebenaran pasti hanya kesesatan."

Lalu beliau mulai membela hadis-hadis yang berkaitan dengan ''ru'yah'' (melihat Allah di akhirat), syafaat, dan lan-lain. Ternyata setelah itu, al-Asy'ari mampu memaparkan kajian-kajian dan dalil-dalil yang belum pernah dipelajarinya dari seorang guru, tidak dapat dibantah oleh lawan, dan belum pernah dibacanya dalam suatu kitab.<ref>{{Cite book|last=Ibnu Asakir|first=|date=1347 H|url=|title=Tabyin Kidzb al-Muftari|location=Damaskus|publisher=Percetakan al-Taufiq|isbn=|pages=38|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Ibnu Khallikan|first=|date=1994|url=|title=Wafayat al-A'yan, juz 3|location=Beirut|publisher=Dar Shadir (edisi Ihsan Abbas)|isbn=|pages=284|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Al-Subki|first=|date=|url=|title=Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, juz 3|location=Beirut|publisher=Dar Ihya' al-Kutub|isbn=|pages=219|url-status=live}}</ref>

==== Kewafatan ====
[[File:Baghdad collage.png|thumb|Kota Baghdad, tempat imam Abu al-Hasan Al-Asy'ari menghabiskan sebagian besar hidupnya sampai beliau meninggal di sana.]]
Abu al-Hasan al­-Asy’ari wafat di [[Baghdad]] pada tahun 324 H/935 M. <!--Semoga Allah meridhoi­nya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.-->

== Fase pemikiran ==
Ada perbedaan pendapat tentang fase pemikiran Abul Hasan Al-Asy'ari sebagian pihak mengklaim Abul Hasan Al-Asy'ari hanya melewati dua fase, pihak lainnya mengklaim Abul Hasan Al-Asy'ari melewati tiga fase pemikiran.

=== Dua fase ===
Abu Bakar bin Furak, Ibnu Khaldun dan ulama-ulama lainnya berpendapat bahwa Abul Hasan Al-Asy'ari hanya melewati dua fase pemikiran saja yaitu dari Muktazilah ke Ahlussunah.<ref>{{Cite book|last=Ibnu Asakir|first=|date=1347 H|url=|title=Tabyin Kidzb al-Muftari|location=Damaskus|publisher=Percetakan al-Taufiq|isbn=|pages=127|url-status=live}}</ref><ref name="Ibnu Khaldun"/>

Ibnu Khaldun berkata:

{{quote|Hingga akhirnya tampil Syekh Abu al-Hasan al-Asy'ari dan mendebat sebagian tokoh Muktazilah tentang masalah-masalah ''shalah'' dan ''ashlah'', lalu dia membantah metodologi mereka dan mengikuti pendapat Abdullah bin Sa'id bin Kullab, Abu al-Abbas al Qalanisi, dan al-Harits al-Muhasibi dari kalangan pengikut salaf dan Ahlussunah.<ref name="Ibnu Khaldun">{{Cite book|last=Ibn Khaldun|first=|date=2001|url=|title=al-Muqaddimah|location=Beirut|publisher=Dar al-Fikr|isbn=|pages=853|url-status=live}}</ref>}}

Dari pernyataan Ibnu Khaldun tersebut ia menyimpulkan bahwa setelah al-Asy'ari keluar dari paham Muktazilah, beliau mengikuti mazhab Abdullah bin Sa'id bin Kullab, al-Qalanisi, dan al-Muhasibi yang menurutnya dia merupakan pengikut Ahlussunnah.

=== Tiga fase ===
Ulama-ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, syekh Utsaimin dan ulama-ulama kontemporer lainnya berpendapat bahwa Abul Hasan Al-Asy'ari melewati tiga fase pemikiran dalam hidupnya. Yaitu dari Muktazilah ke Kullabiyah ke Ahlussunah.<ref name="Ibnu Katsir"/><ref>{{citeweb|url=https://asysyariah.com/siapakah-abul-hasan-al-asyari/?amp|title=Siapakah Abul Hasan Al-Asy'ari|accessdate=3 Januari 2021|author=Ustaz Abdurrahman Mubarak|web=asyariyah.com}}</ref> 

Sebagian ulama tidak menganggap Kullabiyah sebagai Ahlussunah karena ada beberapa masalah akidah yang bertentangan dengan Suni seperti hanya menetapkan tujuh sifat saja bagi Allah dan menetapkan sifat ''Dzatiyah'' tetapi menafikan sifat ''Ikhtiariyah'' bagi Allah.

Ibnu Taimiyah berkata:

“Dialah yang mengarang kitab–kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Muktazilah dan firkah lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat-sifat Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ''ahlul hadits'' dan sunah, namun masih termuat cara-cara bidah.

Karena dia menetapkan sifat ''Dzatiyah'' dan menolak sifat ''Ikhtiariyah'' bagi Allah, Tetapi ketika membantah Jahmiyah dikarenakan mereka menolak sifat dan sifat ''Uluw'' (Allah berada di tempat yang tinggi). Sarat dengan hujah dan dalil dan menerangkan keutamaan hujah dan dalil tersebut. Maka apa yang dikemukakan itu menyapu bersih syubhat Muktazilah. Dan ini membantu bagi kalangan cendekia. Jadilah dia seorang imam dan panutan bagi orang yang muncul setelahnya dalam masalah penetapan sifat dan membantah orang yang menafikannya.

Walaupun antara mereka (Ibnu Kullab dan pengikutnya dengan golongan yang dibantahnya masih ada persamaan dalam kaidah-kaidah pokok. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kaidah yang mereka munculkan. Menjadi batil dilihat dari kaca mata akal dan karena menyelisihi sunah Rasulullah “. {{sfn|Majmu’fatwa 12/ 366}}

Dari pernyataan Ibnu Taimiyah di atas ia beranggapan bahwa kaidah-kaidah yang dilakukan Kullabiyah untuk membantah Muktazilah masih memiliki kesamaan terutama dalam kaidah pokok, ditambah karena Kullabiyah hanya menetapkan sifat ''Dzatiyah'' dan menolak sifat ''Ikhtiariyah'' bagi Allah.

== Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam penetapan sifat-sifat Allah ==
Abul Hasan Al-Asy'ari pada masa menjadi Muktazilah ia meniadakan semua sifat-sifat Allah dengan dalih menyucikan keesaan Tuhan, karena [[Wasil bin Atha']] berpendapat bahwa siapa pun yang menetapkan adanya sifat kadim bagi Allah, maka dia telah menetapkan adanya dua Tuhan. Muktazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat, sebab apabila Tuhan memiliki sifat, maka sifat tersebut harus kekal seperti halnya ''dzat'' Tuhan.<ref>{{citeweb|title=Sifat-sifat Tuhan Menurut Aliran Mu’tazilah|url=https://www.bacaanmadani.com/2018/01/sifat-sifat-tuhan-menurut-aliran.html?m=1|accessdate=3 Januari 2020|web=www.bacaanmadani.com}}</ref> Kemudian Abul Hasan Al-Asy'ari hanya menetapkan tujuh saja sifat Allah yaitu ''hayah'', ''ilmu'', ''qudrah'', ''iradah'', ''sam’u'', ''bashir'', dan ''kalam'', <ref name="Ibnu Katsir">[[Ibnu Katsir]] berkata: “Mereka (para ulama) menyebutkan tiga fase kehidupan Abul Hasan Al-Asy’ari, Fase pertama, berfaham Mu’tazilah. Fase kedua: penetapan sifat tujuh yaitu hayat, ilmu, qudroh, irodah, sam’u, bashar, dan kalam dengan berdasarkan kaidah akal. Adapun sifat Khobariyah, seperti wajah, dua tangan, kaki, betis dan lainnya dita’qil (ditahrif). Fase ketiga, menetapkan semua sifat khobariyah tadi dengan tanpa ditakyif dan tasybih menurut faham salaf. Inilah metode yang beliau tempuh seperti dijabarkan dalam kitab al Ibanah, karya terakhir beliau” (Ithaf  Sadatil Muttaqin, Murtadho Az- Zabidi, 2/5 cet. Darul Fikr).</ref>   Adapun sifat ''khabariyah'' tentang Allah dia pun menakwilnya. Apa yang dicetuskan oleh Abul Hasan al-Asy'ari ketika itu tersebar ditengah masyarakat dan menjadi titik awal berkembangnya teologi [[Asy'ariyah]].<ref>{{citeweb|url=http://eprints.ums.ac.id/26386/11/NASKAH_PUBLIKASI.pdf&ved=2ahUKEwjx7ceh4OLrAhXBbX0KHQmhDLkQFjAAegQIDRAC&usg=AOvVaw10hyJReckPmpyu9XvSCCFu|title=PEMIKIRAN ABU AL-HASAN AL-ASY’ARI TENTANG ASMA’ DAN SIFAT ALLAH|format=pdf|accessdate=12 September 2020}}{{Pranala mati|date=Januari 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}</ref> Kemudian Abul Hasan Al-Asy'ari menetapkan semua sifat Allah tanpa tasybih, tahrif, takwil, dan tanpa menafikannya sesuai dengan metodologi salaf.

{{quote|Sesungguhnya Allah bersemayam di atas 'Arasy sebagimana yang dinyatakan firman-nya "Tuhan yang maha pemurah itu bersemayam di atas 'Arasy" (QS.Thaha, 20:5) Allah pun memiliki 'wajah' Sebagaimana dinyatakan firman-nya "Maka kekallah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan (QS.ar-Rahman, 55:27), dan Allah memiliki "Tangan" yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-nya "Yang aku ciptakan dengan Tangan ku" (QS.Shad, 38:75); dan "bahkan tangan tangan Allah terbuka" (al-Mai'dah, 5:64); dan Allah memiliki 'Mata', yang tidak terbayangkan, sebagaimana firman-nya: "yang berlayar dengan pengawasan mata kami" (QS.al-Qamar,54:14) Barangsiapa yang menyatakan nama Allah itu bukan 'Allah' maka tersesatlah dia.|author=Abu al-Hasan Al Asy'ari, ''al-Ibanah 'an Ushul ad-Diyanah'': Bab 2: hlm 10.}}

[[Ibnu Taimiyah]] berkata, “Barang siapa yang menyatakan Abul Hasan al-Asy’ari menafikan sifat dan beliau memiliki dua pendapat dalam menakwilkan sifat Allah, maka orang tersebut telah berdusta atas nama Abul Hasan. Yang melakukan takwil seperti ini adalah pengikutnya yang belakangan seperti Abul Ma’ali dan lainnya. Mereka memasukkan ushul (akidah/prinsip pokok) [[muktazilah]] ke dalam mazhabnya.”{{sfn|Majmu Fatawa,12/203}}

== Guru-gurunya ==
=== Imam al-Hafizh Zakariya bin Yahya al-Saji ===
Abu Yahya Zakariya bin Yahya al-Saji al-Syafi'i (220-307 H / 835-920 M), hafizh besar, ''muhaddits'' kota Bashrah pada masanya, murid Imam Ahmad bin Hanbal<ref>{{Cite book|last=Hasyim, M.A.|first=Dr. Arrazy|date=2018|url=|title=Teologi Muslim Puritan, Genealogi dan Ajaran Salafi|location=Tangerang Selatan|publisher=Yayasan Wakaf Darus-Sunnah|isbn=9786027454743|pages=81|url-status=live}}</ref>, dan fakih bermazhab Syafi'i. Beliau telah menulis kitab ''<nowiki/>'Ilal al-Hadits'' yang membuktikan kepakarannya dalam bidang studi kritik hadis. Beliau juga menulis kitab ''Ikhtilaf al-Fuqaha''' dan ''Ushul al-Fiqih'' yang membuktikan kepakarannya dalam bidang [[fikih]]. Menurut al-Dzahabi, al-Asy'ari belajar hadis dan ideologi ahli hadis kepada Zakariya al-Saji ketika masih kecil dan belum memasuki aliran [[Muktazilah]].<ref>{{Cite book|last=Al-Dzahabi|first=|date=|url=|title=Tadzkirah al-Huffazh, juz 2|location=Beirut|publisher=Dar Ihya' al-Turats|isbn=|pages=710|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Al-Dzahabi|first=|date=1994|url=|title=Siyar A'lam al-Nubala', juz 14|location=Beirut|publisher=Muassasah al-Risalah|isbn=|pages=|url-status=live}}</ref>

=== Imam Abu Khalifah al-Jumahi ===
Abu Khalifah al-Fadhl bin al-Hubab al-Jumahi al-Bashri (206-305 H / 821-917 M), ''muhaddits'' kota Bashrah yang dianggap ''tsiqah'' (dipercaya). Beliau seorang ahli hadis yang jujur dan banyak meriwayatkan hadis. Usianya hampir mencapai seratus tahun. Al-Asy'ari banyak meriwayatkan hadis dan Abu Khalifah dalam kitab tafsirnya.<ref>{{Cite book|last=Al-Dzahabi|first=|date=|url=|title=Tadzkirah al-Huffazh, juz 2|location=Beirut|publisher=Dar Ihya' al-Turats|isbn=|pages=670|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Al-Zarkali|first=|date=|url=|title=al-A'lam, juz 5|location=|publisher=|isbn=|pages=148|url-status=live}}</ref>

=== Abdurrahman bin Khalaf al-Dhabbi ===
Abu Muhammad Abdurrahman bin Khalaf bin al-Hushain al-Dhabbi al-Bashri, ''muhaddits'' yang tinggal di Bashrah dan hadisnya diterima oleh para ulama. Beliau belajar kepada Ubaidillah bin Abdul Majid al-Hanafi, Hajjaj bin Nushair al-Fasathithi, dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 279 H / 893 M.<ref>{{Cite book|last=Al-Baghdadi|first=Al-Khatib|date=|url=|title=Tarikh Baghdad, juz 4|location=Beirut|publisher=Dar al-Fikr|isbn=|pages=436|url-status=live}}</ref>

=== Sahal bin Nuh al-Bashri ===
Abu al-Hasan Sahal bin Nuh bin Yahya al-Bazzaz al-Bashri, seorang ''muhaddits'' yang tinggal di Bashrah, guru al-Asy'ari dalam bidang hadits.

=== Muhammad bin Ya'qub al-Maqburi ===
Menurut Ibnu Asakir, al-Asy'ari banyak meriwayatkan hadis dalam tafsirnya melalui jalur Zakariya al-Saji, Abu Khalifah al-Jumahi, Abdurrahman bin Khalaf al-Dhabbi, Sahal bin Nuh al-Bazzaz, dan Muhammad bin Ya'qub al-Maqburi, yang kesemuanya tinggal di Bashrah.<ref>{{Cite book|last=Al-Subki|first=|date=|url=|title=Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra, juz 3|location=Beirut|publisher=Dar Ihya' al-Kutub|isbn=|pages=355|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Al-Zabidi|first=|date=|url=|title=Ithaf al-Sadat al-Muttaqin, juz 2|location=Beirut|publisher=Dar al-Fikr|isbn=|pages=3|url-status=live}}</ref>

=== Imam Abu Ishaq al-Marwazi al-Syafi'i ===
Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al-Marwazi, ulama besar dan pemimpin mazhab Syafi'i di Baghdad dan Mesir. Beliau murid terbesar Imam Abu al-'Abbas bin Suraij al-Baghdadi (249-306 H / 863-918 M). Pada mulanya Abu Ishaq al-Marwazi ini menyebarkan mazhab Syafi'i di Baghdad, menggantikan posisi gurunya Ibnu Suraij. Namun pada akhir usianya, beliau pindah ke Mesir dan menyebarkan madzhab Syafi'i di Mesir hingga wafat di sana pada tahun 340 H / 951 M, dan jenazahnya dimakamkan bersebelahan dengan makam Imam al-Syafi'i. Al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan dalam kitabnya ''Tarikh Baghdad'' bahwa Imam al-Asy'ari rutin menghadiri perkuliahan Abi Ishaq al-Marwazi dalam materi fiqih Syafi'i setiap hari Jumat di Masjid Jami' al-Manshur.<ref name=":6">{{Cite book|last=Al-Baghdadi|first=Al-Khatib|date=|url=|title=Tarikh Baghdad, juz 6|location=Beirut|publisher=Dar al-Fikr|isbn=|pages=11|url-status=live}}</ref> Informasi lainnya menyebutkan bahwa al-Asy'ari belajar ilmu fikih kepada Abu Ishaq al-Marwazi, sedangkan al-Marwazi belajar ilmu kalam kepada al-Asy'ari.<ref name=":6" /><ref>{{Cite book|last=Ibn Khallikan|first=|date=1994|url=|title=Wafayat al-A'yan, juz 1|location=Beirut|publisher=Dar Shadir (edisi Ihsan Abbas)|isbn=|pages=26|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Al-Dzahabi|first=|date=1994|url=|title=Siyar A'lam al-Nubala', juz 15|location=Beirut|publisher=Muassasah al-Risalah|isbn=|pages=429|url-status=live}}</ref>

=== Abu Ali al-Jubba'i ===
Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab bin Salam al-Jubba'i (235-3-3 H / 849-916 M), pakar teologi, tokoh Muktazilah terkemuka. Hubungan yang sangat dekat antara guru dan murid ini menjadikan al-Asy'ari menjadi kader Muktazilah yang populer.

=== Abu Hasyim al-Jubba'i ===
Abu Hasyim Abdussalam bin Muhammad bin Abdul Wahhab al-Jubba'i, putra Abu Ali al-Jubba'i, pakar teologi dan tokoh Muktazilah.

== Murid-muridnya ==
Murid-murid Imam al-Asy'ari tidak hanya para pakar dalam bidang teologi saja tetapi mereka berangkat dari latar belakang keilmuan yang beragam, seperti ahli hadis, ahli tafsir, ahli fikih, ahli tasawuf, dan lain-lain, sehingga mazhab dan pelbagai pemikiran al-Asy'ari disebarkan melalui pintu berbagai studi keislaman seperti melalui ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu tafsir, ilmu tasawuf, dan lain-lain.<ref>{{Cite book|last=Idrus Ramli|first=Muhammad|date=2014|url=|title=Madzhab Al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama'ah?: Jawaban Terhadap Aliran Salafi|location=Surabaya|publisher=Khalista|isbn=9789791353144|pages=30|url-status=live}}</ref> Di antara murid-murid Imam al-Asy'ari tersebut adalah:

# Imam Ibn Mujahid (w. 370 H / 980 M): pakar teologi dan pengikut mazhab Maliki.
# Imam Abu Zaid al-Marwazi (301-371 H / 913-982 M): ulama besar yang menyandang gelar ''al-Mufti'', ''al-Zahid'', guru para ulama mazhab Syafi'i dan perawi Shahih al-Bukhari dari al-Farabri.
# Imam Ibn Khafif al-Dhabbi (276-371 H / 890-982 M): ulama sufi yang menyandang gelar ''al-Imam al-'Arif'', fakih bermazhab Syafi'i, menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan dan guru kaum sufi.
# Al-Hafizh Abu Bakar al-Ismaili (277-371 H / 890-982 M): ulama yang menyandang gelar ''al-Hafizh'', ''al-Hujjah'', ''al-Faqih'', ''Syaikh al-Islam'', guru ulama mazhab Syafi'i, dan pengarang kitab al-Shahih.
# Imam Abu al-Hasan al-Bahili: guru para teolog dan ahli dalam ilmu-ilmu rasional.
# Imam Bundar al-Syirazi al-Sufi (w. 353 H / 964 M): pakar dalam bidang teologi dan ushul fikih, penganut mazhab Syafi'i, dan salah seorang tokoh sufi.
# Imam Ali bin Mahdi al-Thabari (324-380 H / 936-990 M): tokoh terkemuka dalam bidang teologi, pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, ulama yang sangat produktif, memiliki kehebatan dalam bidang fikih, teologi, tafsir, dan sejarah.
# Imam Abu al-Husain bin Sam'un (300-387 H / 912-997 M): menyandang gelar ''Imam al-Mutakallimin'' (penghulu para teolog), ulama sufi yang dikenal zuhud dan wara', ulama terkemuka dalam mazhab Hambali.
# Imam Abu Sahal al-Shu'luki (296-369 H / 908-980 M): pakar fikih terkemuka dalam mazhab Syafi'i, ahli dalam bidang tasawuf, teologi, tafsir, gramatika (nahwu), bahasa, syair, ilmu 'arudh, dan lain-lain.
# Imam Abu Bakar al-Qaffal (291-365 H / 904-976 M): ulama terkemuka pada masanya dalam bidang fikih mazhab Syafi'i, hadis, teologi, ushul fikih, bahasa dan sastra, juga dikenal zuhud dan wara'.

== Karya tulis ==
Dia meninggalkan karya-karya tulis, kurang lebih berjumlah 90 kitab dalam berbagai fase pemikirannya. Ada tiga kitabnya yang terkenal:

# ''Al-Luma'';
# ''Al-Ibanah 'an Ushulid Diniyah'';
# ''Maqalat al-Islamiyyin'';


Kitab-kitab yang lainnya:

# ''Tafsir al-Qur'ān'' (''Hāfil al-Jāmi''');
# ''Al-Fushul fi ar-Radd 'ala al-Mulhidin wa al-Khārijin 'an al-Millah'';
# ''Kitāb al-Idrāk fi Fununi min Lathif al-Kalām'';
# ''Kitāb al-Ijtihād fi al-Ahkām'';
# ''Kitāb al-Akhbār wa Tashhihihā'';
# ''Kitāb al-Imāmah'';
# ''Asy-Syarhu wa at-Tafshil fi ar-Raddi 'ala Ahli al-Ifki wa at-Tadhlil'';
# ''Ar-Radd 'ala Ibni ar-Rāwandi fi ash-Shifāt wa al-Qur'ān'';
# ''At-Tabyin 'an Ushuli ad-Din'';
# ''Al-'Amdu fi ar-Ru'yah'';
# ''Kitāb al-Maujiz'';
# ''Kitāb ash-Shifāt'';
# ''Kitāb ar-Radd 'ala al-Mujassimah'';
# ''An-Naqdh 'ala al-Jubbā'i'';
# ''An-Naqdh 'ala al-Balkhi'';
# ''Jumal Maqālāt al-Mulhidin'';
# ''Kitāb fi ash-Shifāt'';
# ''Adab al-Jidal'';
# ''Kitāb fi Khalqi al-A'māl'';
# ''An-Nawādir fi Daqaiqi al-Kalām'';
# ''Risālah ila Ahli Ats-Tsughar'';
# ''Idhāh al-Burhān fi ar-Raddi 'ala az-Zaighi wa ath-Thughyān'';
# ''Jawāz Ru'yat Allah bil Abshār'';
# ''Al-Funan fi ar-Raddhi 'ala al-Mulhidin'';
# ''Al-Qāmi' likitāb al-Khālidi fi al-Irādah''.

== Lihat pula ==
*[[Abu Musa Al-Asy'ari]]
*[[Asy'ariyah]]
*[[Kullabiyah]]

== Referensi ==
<div style="font-size: 15px;">
{{Reflist}}

== Daftar pustaka ==
*{{cite video|people=[[Dzulqarnain Muhammad Sunusi]]|title=Kisah Taubat Abul Hasan al-Asy'ary: Renungan dan Pelajaran.|medium=Youtube|url=https://www.youtube.com/watch?v=R46pC-nYBgA&feature=youtu.be| publisher = Dzulqarnain MS| location = Indonesia|date=25 Oktober 2017|accessdate=6 Oktober 2020}}
*{{citeweb|title=Napak Tilas Perjalanan Hidup al-Imam Abul Hasan Al-asy’ari|date=26 April 2012|author=Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.|url=https://asysyariah.com/napak-tilas-perjalanan-hidup-al-imam-abul-hasan-al-asyari/|publisher=asyariyah.com, Majalah Edisi 071 s.d. 080, Asy Syariah Edisi 074|accessdate=6 Oktober 2020}}

[[Kategori:Ulama|Abu Hasan Al Asy'ari]]
[[Kategori:Cendekiawan Muslim|Abu Hasan Al Asy'ari]]
[[Kategori:Filsuf Islam]]
[[Kategori:Ulama Syafi'i Abad ke-3 H|Abu Hasan Al Asy'ari]]