Revision 21808912 of "Dimyathi al-Bantani" on idwiki

{{Infobox Ulama Muslim
|notability       = Abuya Muhammad Dimyathi bin Muhammad Amin al-Bantani
<!-- ----------- --> 
|image            = Abuya Muhammad Dimyathi.jpg
|caption          = 
<!-- ----------- --> 
|jalur_ayah       = Bin Muhammad Amin
|jalur_ibu        = 
|nasab            = 
<!-- ----------- --> 
|tgl_lahir_h       = 27
|tgl_lahir_m       = 7
|bln_lahir_h       = Syakban
|bln_lahir_m       = Februari
|thn_lahir_h       = 1347
|thn_lahir_m       = 1930
|tempat_lahir      = Pandeglang
|negara_dilahirkan = [[Pandeglang]], [[Banten]] era {{negara|Hindia Belanda}} [[Hindia Belanda]] 
|nama_ayah         = Muhammad Amin
|nama_ibu          = Ruqayah 
|nama_lahir        = 
|hari_lahir        = 
<!-- ----------- -->
|glr_islam_dpn    = 
|gelar_aka_dpn    = 
|glr_tengah       = [[Abuya]]
|gelar_aka_akhir  =
|gelar_bangsawan  = 
|gelar_adat       = 
|gelar_lainnya1   =
|gelar_lainnya2   = 
|gelar_lainnya3   = 
<!-- ---------------- --> 
|kunya            = 
|name             = Muhammad Dimyathi
|nama_arabic      =
|nisbah           = al-Bantani
|nama_lainnya     = Abuya Dimyathi, Mbah Dim
<!-- ---------------- --> 
|etnis            = [[Suku Banten|Sunda Banten]]
|nationality      = [[Indonesia]] {{negara|Indonesia}}
|marga            = 
|negara1          = 
|negara2          = 
|negara3          = 
<!-- ---------------- --> 
|children = [[Ahmad Muhtadi Dimyathi]]
<!-- ---dakwah ketokohan- -->
|judul1      = Pendiri 
|sub1        = [[Pondok Pesantren Roudotul 'Ulum]], Cidahu
|mulai1      = 
|selesai1    =
|pendahulu1  =
|pengganti   =
                 
|judul2      = 
|sub2        = 
|mulai2      = 
|selesai2    =
|pendahulu2  =
|penggant2   =
                 
|judul3      = 
|sub3        = 
|mulai3      = 
|selesai3    =
|pendahulu3  =
|penggant3   =
                 
|judul4      = 
|sub4        = 
|mulai4      = 
|selesai4    = 
|pendahulu4  = 
|pengganti4  = 
<!-- ---------------- --> 
|mazhab_fiqih_sunni_1     = [[Mazhab Syafi'i]]
|thariqah_sunni_1         = [[Tarekat Syadziliyah]]
<!-- ---------------- --> 
|influences = Syekh [[Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri]]
<!-- ---kewafatan------ --> 
|status_hidup_wafat       = WAFAT
|sebab_wafat              = 
|tempat_wafat             = 
|hari_wafat               = Jumat
|tgl_wafat_h              = 7
|tgl_wafat_m              = 3
|bln_wafat_h              = Syakban
|bln_wafat_m              = Oktober
|thn_wafat_h              = 1424
|thn_wafat_m              = 2003
|hari_dimakamkan          = 
|tempat_makam             = Cidahu
|negara_makam             = [[Cadasari, Pandeglang|Cidahu, Cadasari, Pandeglang]], [[Banten]] {{negara|Indonesia}}
}}
'''Abuya Muhammad Dimyathi bin Muhammad Amin al-Bantani''' atau dikenal dengan '''Abuya Dimyathi''' atau '''Mbah Dim''' ({{lahirmati|[[Pandeglang]]|7|2|1930|[[Pandeglang]]|3|10|2003}}) adalah seorang [[ulama]] kharismatik dari [[Banten]] yang juga dikenal sebagai [[sufi]]. Dia berperan sebagai pembimbing para murid dalam menjalani dunia [[tasawuf]].{{Bio muslim butuh rujukan}}

== Biografi ==
[[Berkas:KELUARGA BESAR BUYA DIMYATI PANDEGLANG.jpg|kiri|jmpl|Keluarga Besar Abuya Dimyathi]]
Abuya lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj.Ruqayah. Dia dikenal sangat haus akan ilmu. Karena itu, ia belajar ilmu agama pada banyak pesantren, mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng, Pandeglang, Plamunan hingga Pesantren Sempur, [[Plered, Purwakarta|Plered]], [[Purwakarta]] asuhan Syekh [[Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri]].{{Bio muslim butuh rujukan}}

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kyainya dari para kyai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai ulama ''Khas al-Khas'' atau ''rasikhah''. Ulama yang sikapnya sehari-hari merupakan cerminan dari ilmu yang dikuasainya. Masyarakat Banten menjulukinya juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya Negara Indonesia.{{Bio muslim butuh rujukan}}

Abuya adalah seorang ''qurra’'' dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau [[salat Tarawih]] di bulan puasa, tidak turun untuk [[sahur]], kecuali setelah mengkhatamkan [[al-Qur’an]] dalam salat.{{Bio muslim butuh rujukan}}

Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Dia bukan saja mengajarkan ilmu syariah, tetapi juga menjalankan kehidupan sufistik. Tarekat yang dianutnya adalah [[Tarekat Syadziliyah]].{{Bio muslim butuh rujukan}}

Dalam buku ''Tiga Guru Sufi Tanah Jawa'' karya H. Murtadho Hadi, Abuya Dimyathi digolongkan bersama [[Syekh Muslih bin Abdurrahman al-Maraqi]] ([[Mranggen, Demak]]) dan [[Syekh Romli Tamim]] (Rejoso, [[Jombang]]) sebagai tiga ulama sufi berpengaruh di Jawa. Bahkan, dalam buku Manaqib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam), Abuya yang juga keturunan [[Sultan Maulana Hasanuddin]] dan [[Syarif Hidayatullah]] ini dikenal sebagai ''wali qutub''.{{Bio muslim butuh rujukan}}

=== Ngaji ===
Sebagai seorang sufi, Abuya mengajarkan jalan spiritual yang unik, yaitu “tarekat ngaji”. Dia secara tegas menyeru,”''Thariqah aing mah ngaji''” (Jalan saya adalah ngaji).{{Bio muslim butuh rujukan}}

=== Meninggal dunia ===
Abuya Dimyathi meninggal pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 (7 Sya’ban 1424 H) sekitar pukul 03.00 WIB di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.<ref>Majalah Hidayah edisi 114, Februari 2011 hal.64-68</ref>

== Referensi ==

{{reflist}}

{{lifetime|1930|2003|Abuya, Dimyathi}}
{{Ulama-Nusantara-bio-stub}}

[[Kategori:Ulama Banten]]
[[Kategori:Tokoh Sunda]]