Revision 6601819 of "FORSOLIMA" on idwiki

{{tidak memenuhi kriteria kelayakan|d=4|m=04|y=2013|i=14|ket=|kat=Y}}
{{rapikan}}
[[FORSOLIMA]] singkatan dari Forum Solidaritas Mahasiswa Medan. Merupakan sebuah organisasi dari kumpulan organisasi mahasiswa yang ada di kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Kelahiran forsolima dimotori oleh Iswan Kaputra, seorang mahasiswa pindahan dari Akademi Komunikasi Yogyakarta ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan di Medan.

Saat itu Iswan melihat begitu sulitnya menyatukan mahasiswa Medan untuk sebuah gerakan melawan kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Berbagai pertemuan yang digelar sebelumnya untuk mengambil kata sepakat mendirikan organisasi gerakan mahasiswa secara bersama di Medan, selalu menemui jalan buntu. Pengaruh kultural Sumatera Utara yang dikenal dengan raja-raja kecilnya juga merasuk dalam fikiran mahasiswa, sehingga perdebatan untuk mengambil kata sepakat soal nama organisasi gerakan yang akan dibentuk, menjadi sangat ulet, karena masing-masing perwakilan kampus ingin nama yang mereka usulkan yang menjadi nama bakal organisasi tersebut. Bahkan tak jarang untuk menentukan tempat diskusi atau pertemuan berikutnyapun menjadi perdebatan yang panjang karena masing-masing perwakilan mahasiswa meminta tempat pertemuan di kampus mereka.

Sehingga Iswan bersama beberapa orang mahasiswa dari kampus yang berbeda, yakni Rustam Ependi dari kampus [[Universitas Medan Area]] (UMA), Elfenda Ananda dari kampus Universitas Amir Hanzah, N. Sihanouk dari kampus Universitas Panca Budi, Siswanto dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK'P), Joni Silitonga dari kampus Universitas HKBP Nomensen (mereka semua adalah perwakilan dari senat mahasiswa kampusnya masing-masing) menggagas agar dilepas semua baju atau jaket kesenatan dan dalam pertemuan bertindak atas nama mahasiswa bukan senat mahasiswa.

Ternyata cara tersebut berhasil meruntuhkan ego kampus masing-masing sehingga dibentuklah Komite Solidaritas Mahasiswa Medan (KSMM) pada tahun 1993, dengan pengembangan perekrutan dan pengkaderan anggota menggunakan sistem sel ke kampus-kampus dengan pendekatan personal, bukan kelembagaan kampus. Setelah 2 kali melakukan aksi mahasiswa di Lubuk Pakam, aksi demonstrasi yang dimaksud adalah aksi solidaritas terhadap petani Dusun Anggrek, Ramunia, Deli Serdang yang lahannya dikuasai oleh sebuah Koperasi Angkatan Darat yang sudah 1 minggu menduduki kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) [[Deli Serdang]]. Pada masa puncak kekuatan rezim Orde Baru, seperti saat itu masih sangat jarang kasi demonstrasi dilakukan, bahkan sering dibilang orang gila bagi mahasiswa yang demonstrasi. Akhirnya KSMM Merubah namanya menjadi Forum Mahasiswa Medan (FMM).

Perubahan nama seperti ini biasa dilakukan gerakan mahasiswa pada jaman Orde Baru, demi keamanan para aktifisnya. Beberapa bulan berikutnya FMM berubah nama lagi menjadi Forum Solidaritas Mahasiswa Medan yang disingkat dengan Forsolima, hingga tahun 2006.

Forsolima sangat aktif dalam berbagai diskusi, pelatihan dan pencerahan bagi mahasiswa di kota Medan. Begitu juga Forsolima sangat aktif dalam melakukan kritik keras, demonstrasi dan tulisan di media tentang kesewenangan pemerintahan Orde Baru saat itu. Hingga pada akhirnya para tokoh Forsolima ditangkapi karena dianggap merongrong martabat negara dan penghinaan terdapat kepala negara, menggunakan pasal-pasal karet dalam undang-undang RI, yakni pasal yang biasa disebut hatzai artikelen, atau pasal-pasal subversib dalam undang-undang, yang biasa digunakan oleh para penguasa untuk menjerat lawan-lawan politiknya yang dianggap membahayakan status quo-nya. Padahal para aktifis Forsolima ini hanya melakukan delegasi ke Komisi A DPRD Sumatera Utara, saat itu bersama seorang mahasiswa [[UGM]] (Bimo Nugroho) dan 2 orang mahasiswa dari Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM - Sahat Lumbanraja dan Mulana Samosir), untuk menyampaikan aspirasinya tentang kemarahan presiden Soeharto saat di demo mahasiswa di Dresden, Jerman. Forsolima memberikan pernyataan bahwa tidak pantas seorang presiden marah-marah seperti pernyataannya di pesawat saat pulang dari Jerman. Orang yang dituduh presiden, saat itu, memberikan ''puding politik'' pada mahasiswa Jerman, yakni [[Gunawan Muhammad]], [[Yeni Rosa Damayanti]] dan Sri Bintang Pamungkas, masih bebas berceramah di berbagai kota di Indonesia, namun para pendukungnya dari Forsolima telah meringkunk dalam tahanan.
Kisah penankapan tersebut dituangkan para aktifis Forsolima dan BITRA Indonesia dalam buku catatan dan refleksi penangkapan yang diberi judul Kemana Arah Angin<ref>(buka pada lahman web) National Library of Australia (http://trove.nla.gov.au/work/15049571?versionId=17711368)</ref>, Catatan dan Refleksi Kasus Tertangkapnya Aktifis Forsolima dan BITRA<ref>(buka pada lahman web Perpustakaan Akatiga, Centre for Social Analysis (http://pustaka.akatiga.org/akatiga/index.php?p=show_detail&id=3834)</ref>.

====Catatan====
<references/>