Revision 35222 of "OMPU GURU SIUPAN" on idwikisource

<big>'''<big>OMPUNG GURU SIUPAN</big>'''</big><br />
<small>'''''Penulis : G.B.Nahor'''''</small><br />
<br />
Ompu Guru Siupan terdiri dari tiga kata yang ditambah-tambahkan secara bertahap hingga akhir hayatnya. Siupan adalah nama yang pertama disebut kepada beliau dari sejak kecil. Guru adalah tambahan nama beliau yang dapat diartikan sebagai seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi. Kemudian Ompung disematkan pada namanya sebagai ungkapan keleluhuran beliau, yang berarti mempunyai anak dan cucu.<br />
<br />
Pada masa kecil beliau dikenal dengan nama SIUPAN. Setelah dewasa Dia menikah dengan isterinya boru Matupang. Mereka tinggal di Parbotihan. Cukup lama mereka berkeluarga namun tidak mempunyai anak. Sebagaimana dalam kebiasaan orang Batak, bahwa kehadiran anak adalah hal yang sangat penting. Kehadiran anak membuat suasana dalam rumah tangga menjadi ramai dan penuh kebahagiaan. Kehadiran anak dalam keluarga bangso Batak sangat penting karena menjadi penerus generasi dan penyambung Silsilah keluarga.<br />
<br />
Dalam keadaan keluarga yang tidak ada anak tersebut hati mereka mulai cemas dan waswas. Ada pula perasaan malu dengan saudara dan keluarga sekampung halaman. Kemudian mereka meninggalkan Parbotihan menuju tempat baru, dengan harapan dapat merubah nasib, terutama dalam memperoleh keturunan. Mereka menyusuri hutan ke arah Pakkat, dan mereka sampai di daerah Simatongtong. Cukup lama mereka tinggal di Simatongtong namun belum juga dikaruniai anak.<br />
<br />
Pada suatu ketika, Ompung Guru Siupan mendapat peranan sebagai pemimpin pasukan perang di Sambaton. Disana sedang terjadi peperangan antara Simbolon dengan Simamora. Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Marga Simbolon. Dan kemudian kepada Ompung Guru Siupan diberikan putri/boru mereka menjadi isterinya. Dan tinggallah disana sebagai hela.<br />
<br />
Ada hal unik yang dilakukan Ompung Guru Siupan yaitu selalu membawa tanah dari hutanya di dalam alas kakinya, kemanapun dia pergi. Hal itu dilakukan untuk menjaga wibawa putra raja yang senantiasa berpinjak diatas tanah kerajaannya. Walaupun dia di Siambaton dia merasa tetap raja sebab dia tetap menginjak tanah dari kerajaannya.<br />
<br />
Isterinya boru Simbolon kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama TOGA MANALUN. Keturunannya tinggal di Siambaton. Tak lama kemudian isteri pertama boru Matupang juga melahirkan anak. Karena itu disebutkanlah dia “MARTUA IMBANG” sebab kelahiran anak dari isteri kedua/ imbang kemudian mengundang kelahiran anak bagi isteri pertama. Bahkan mendapatkan dua anak berturut-turut. Kedua anak tersebut ialah SOBO dan GANDA. Sehingga Ompung Guru Siupan memiliki tiga anak, ditambah satu putri dari isterinya boru Simbolon yang diberi nama NIALUN.<br />
<br />
Partuturan diantara anak dari dua isteri Ompung Guru Supan terdapat dua versi. Ada yang mengatakan bahwa anak dari boru Simbolon yang di Siambatan yang jadi abang karena lahir lebih dulu. Ada pula yang mengatakan anak dari boru Matupang yang menjadi abang karena berasal dari isteri pertama. Hal ini dapat dimaklumi karena kebiasaan partuturan di daerah itu telah tercampur dengan kebiasaan adat dairi, yang menganggap bahwa yang pertama lahir itulah yang menjadi abang.<br />
<br />
Pada usia tuanya, terjadilah perang di kampung asalnya Parbotihan. Dia mendengar berita bahwa dalam pertempuran peperangan tersebut pasukan adiknya terdesak oleh pasukan musuh yaitu dari pihak Marga Manullang. Walaupun usianya sudah tua dia berangkat ke Parbotihan untuk membantu saudaranya mempertahankan Bonapasogitnya.<br />
<br />
Mengenai kelanjutan hidupnya di Parbotihan ada pendapat yang belum jelas. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada saat dia pergi ke Parbotihan dibawa pula serta anak dan cucunya. Pendapat lain mengatakan bahwa dia pergi ke Parbotihan, disana dia mempunyai isteri satu lagi, kemudaian dari isterinya itu ada satu anaknya lagi. <br />
<br />
Namun bila dicermati bahwasanya anak satu-satunya dari boru Simbolon tetap berada di huta Siambaton dan berketurunan hingga kini. Kedua anaknya dari boru Matupang tetap berada di huta Simatongtong dan sekitarnya. Keturunan Si GANDA menyebar ke berbagai daerah diantara mereka ada yang mendiami huta Siantar Sibongkare, Sibongkare Sirata, Laksa dan Aek Sopang. Keturunan Si SOBO menempati huta Simatongtong, Sihombu, Sibira-bira atau Sitonong.<br />
<br />
Huta dalam statusnya sebagai kerajaan huta maka terdapat dua kerajaan huta yang dimiliki oleh keturunan Ompung Guru Siupan. Kedua kerajaan huta tersebut adalah Huta Simatongtong dengan Raja Huta dari keturunan Si SOBO dan Huta Siantar dengan Raja Huta dari keturunan Si GANDA. <br />
<br />
Siantar pada awalnya adalah hutan ladang yang dimiliki oleh Raja Ingan. Raja Ingan atau Ompu Buntu adalah keturunan dari Si GANDA. Siantar menjadi sebuah kerajaan huta yang memiliki BATU PARTUNGGUL yang dibuat langsung oleh Raja Ingan, setelah meramalkan bahwa tempat ini cocok untuk dijadikan huta. Ramalan itu dapat dijelaskan bahwa daerah itu kelak ramai penduduknya dan kelurga boru akan banyak harta dan lebih berada. <br />
<br />
Ompu Lamtiur boru Marbun adalah seorang cucu dari Raja Ingan yang mendengar langsung dari yang bersangkutaan tentang bagaimana dari mulanya huta Siantar dibentuk. Diceritakan bahwa yang dilakukan untuk meramal masa depan luat adalah melakukan ritual khusus, menggali lobang sedalam kira-kira satu meter. Kedalam lobang tersebut dimasukkan telor ayam. Dibacakan sebuah mantra, kemudian ditempelkan sebelah telinga ke lobang tersebut. Dari dalam lobang terdengar isarat suara. Isarat suara itulah kemudian diartikan menjadi ramalan sebagaimana telah dijelaskan diatas. <br />
<br />
Pembentukan Huta Siantar pada awalnya dipersoalkan oleh pihak Raja Huta Sibongkare. Menurut Raja Ingan, bahwa saat dia pemimpin perang pasukan Raja Huta Sibongkare, lawan dapat dikalahkan. Atas kemenangan itu dia mendapat hadiah sayembara saat itu dalam bentuk permintaan apapun akan diberikan oleh Raja Huta Sibongkare. Namun pada saat itu dia tidak meminta apapun dan berjanji bahwa dia akan datang lagi untuk meminta hadiahnya tersebut.<br />
<br />
Setelah beberapa saat berladang di Siantar timbullah niatnya untuk menjadikan ladang yang didiaminya tersebut menjadi huta. Lalu ditemuilah Raja Huta Sibongkare dan meminta hadiah seperti dijanjikan sebelumnya. Hadiah yang diminta adalah berupa persetujuan untuk membuka kerajaan huta di Siantar terlepas dari Sibongkare. Oleh pihak Raja Huta Sibongkare permintaan itu ditolak dengan alasan hadiah seperti itu tidak boleh. Raja Ingan juga tegas bahwa hanya itu hadiah yang ingin diminta. <br />
<br />
Persoalan pembentukan kerajaan huta tersebut sampai ke pihak Raja Sisingamangaraja yang pada saat itu posisinya berada disekitar wilayah tersebut yang sedang dicari-cari oleh Belanda. Utusan Raja Sisingamangaraja dikirim untuk mendamaikan persoalan tersebut. Setelah mendengarkan penjelasan kedua belah pihak, maka ditentukan bahwa Santar sah menjadi satu kerajaan huta dengan Raja Huta adalah Raja Ingan.