Difference between revisions 1001000 and 1004973 on jvwiki

'''Prof Dr Ir Sajogyo''' ({{lahirmati|Karanganyar|21|5|1926|Bogor|17|3|2012}}) adalah seorang pakar ilmu sosiologi dan ékonomi yang juga sering dikenal sebagai "Bapak Sosiologi Pedésaan" di Indonesia.

== Riwayat pendidikan dan karir ==

(contracted; show full)PB), pada tahun 1963. Ia memimpin IPB hingga tahun 1965, tahun tatkala huru-hara pulitik sangat mempengaruhi dunia kampus. Pada masa kepemimpinannya inilah, selain merapikan manajemen keuangan kampus, ia memimpin program BIMAS SSBM (Bimbingan Massal Swa-Sembada Bahan Makanan) IPB pada tahun 1963-1965. Pendekatan yang dilakukannya adalah “Pendidikan Orang Dewasa”, mendekatkan antara mahasiswa IPB dengan pribadi-pribadi tani di désa.

Bersamaan tatkala menjadi rektor, sejak tahun 1964 ia diberi amanat oleh p
emeriamaréntah untuk menjadi Ketua Badan Kerja Survey Agro Ekonomi (SAE) hingga tahun 1972. Lembaga ini bertugas “mengkaji sumber-sumber pertanian dan keadaan masyarakat tani di Indonesia serta mengenai organisasi, jasa-jasa dan program pemeriamaréntah di bidang pertanian dan agraria yang ada (dulu) sampai sekarang, baik dari pusat maupun dari daerah”. SAE lahir atas ide Menteri Agraria Mr. Sadjarwo, dilatarbelakangi ketidakpuasannya atas hasil sensus pertanian 1963 yang tidak menggolongkan mereka yang memiliki kurang dari 1000m2 sebagai petani.  Realitas gurem tidak ditangkap dalam sensus.

(contracted; show full)
Dari penghitungan ini diperoleh angka kecukupan pangan 2.172 kalori orang/hari. Di bawah angka ini dinyatakan miskin. Mengukur kemiskinan dari konsumsi pangan kaum papa adalah sangat logis, sebab panganlah kebutuhan paling mendasar. Ukuran garis kemiskinan sangatlah penting, sebab salah satu indikator penting pemerataan kesejahteraan rakyat dilihat dari jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 
Pengukuran berdasar kecukupan pangan ini kemudian berkembang dan diadopsi sebagai kebijakan p
emeriamaréntah dalam rumusan lain sebagai “food basket”. Lebih dari itu, jikapun beras digunakan ukuran kesetaraannya (idealnya bukan beras itu sendiri), ia menyadarkan pentingnya aneka ragam pangan yang demikian kaya dimiliki Indonesia, ditanam di atas jinis tanah yang berbeda-beda dengan budaya tanam masyarakatnya masing-masing. 
(contracted; show full)

Tatkala isu Reforma Agraria atau landreform masih dianggap tabu, alih-alih menjadi perhatian ilmu sosial Indonesia, pada tahun 1976 Prof. Sajogyo secara halus menyinggungnya kembali lewat gagasannya tentang Badan Usaha Buruh Tani (BUBT). Idenya adalah, agar efektif pengelolaan dan produksinya, dilakukan “kolektifisasi” penguasaan tanah oleh petani gurem, dengan cara mereka yang memiliki kurang dari 0,2 hektar dibeli tanahnya oleh p
emeriamaréntah. Tanah ini dititipkan oleh nagara dan diserahkan pengelolaannya kepada Badan Usaha Buruh Tani (BUBT) yang ada di tangan petani gurem tersebut.

Gayung bersambut. Pada tahun 1979,  ia turut serta dalam delegasi World Conference on Agrarian Reform and Rural Develop¬ment (WCARRD) yang diselenggarakan oleh FAO di Roma, Italia. Indonesia mengirim sekitar 40 orang. Sepulang dari Roma, Prof. Sajogyo menggagas riset komparatif para peneliti agraria internasional tentang masalah agraria di Indonesia, India, Filipina, dan beberapa nagara lain. Sempat setahun menjadi visiting fellow di Center for Southeast-Asian Studies, Universitas Kyoto, Jepang,  ia kembali menindaklanjuti hasil riset komparatif tersebut. Kajian dari berbagai nagara itu kemudian dipresentasikan dalam International Policy Workshop on Agrarian Reform in Comparative Perspectives, Selabintana-Sukabumi,  1981.

Di kampus IPB, ia juga dipercaya menjadi pendiri dan direktur Lembaga Penelitian Sosiologi Pedésaan IPB	(1972-1982) atau yang kemudian dikenal dengan Pusat Studi Pembangunan-IPB. Dalam lembaga inilah, berawal dari kerjasama dengan Pemeriamaréntah Daerah Sukabumi, dirintis lembaga riset perencana tingkat kabupatèn terintegrasi (BAPEMKA, 1974-1978) yang kemudian direplikasi menjadi BAPPEDA di semua kabupatèn di Indonesia.

Untuk mengukuhkan fokus kajiannya, ia kemudian mendirikan dan mengetuai Program Pascasarjana Sosiologi Pedésaan di IPB (197-1991). Di sinilah ia mengembangkan apa yang disebut sebagai Sosiologi Terapan, satu mazhab sosiologi yang bervisi emansipatoris, memiliki daya pengubah terutama bagi cita-cita sosial petani dan masyarakatnya. Di dalam Sosiologi terapan, ilmuwan sosial selain berbekal teori dan perbendaharaan ilmiah, ia akan berinteraksi dengan kalangan praktisi baik di pemeriamaréntahan ataupun swasta, LSM, dan masyarakat itu sendiri. Pelibatan bersama-sama dan interaksi berbagai aktor, yang pastinya mensyaratkan saling percaya dan komitmen itu, menjadi ciri dari orientasi Sosiologi Terapan ala Prof. Sajogyo.

(contracted; show full)désa, nasional, hingga internasional mengenai masalah pembangunan dan pemberdayaan masyarakat désa, gizi-pangan, kemiskinan, tanah dan agraria, serta melalui berbagai kelembagaan internasional seperti ILO, WHO, dan UNDP, telah dihadirinya. Ijtihadnya mendorong terciptanya masyarakat yang cerdas dan merdeka terus menerus dilakukannya tanpa henti, bahkan hingga kini meski ia tergolek lemah di atas pembaringan. Usahanya secara sungguh-sungguh itu terus menerus dilakukannya, baik di aras akademik, kebijakan (p
emeriamaréntah), dan gerakan sosial kemasyarakatan.

Cita-cita menuju masyarakat yang cerdas dan merdeka terlalu sempit diwadahi dalam satu kelembagaan, diterobos dari satu sisi, dan dilakukan oleh aktor-aktor yang terpisah. Cita-cita itu adalah cita-cita besar kita semua, membangun Keindonesiaan yang cerdas dan merdeka: “...Slamatkan tanahnya, slamatkan puteranya, pulaunya, lautnya semuanya. Indonesia Raya, merdeka merdeka, hiduplah Indonesia Raya..!”

(contracted; show full)
== Pustaka ==
{{reflist}}

== Lihat pula ==
* [[Daftar sosiolog Indonesia]]

[[Kategori:Tokoh Karanganyar]]