Difference between revisions 208231 and 208296 on map_bmswiki{{judul miring}} '''''Serayo''''' atau '''''nyanyo''''' adalah sistem [[gotong royong]] pada masyarakat [[Suku Kerinci|suku bangsa Kerinci]] yang berada di [[Kabupaten Kerinci]], [[Jambi|Provinsi Jambi]]. Sistem ini juga sering disebut ''baselang'' atau ''berselang''.{{sfnp|Novendra|2010|p=41|ps=: "Sistem gotong royong pada masyarakat suku Kerinci disebut dengan serayo atau nyanyo. Beberapa masyarakat di Jambi menyebutnya dengan istilah baselang atau berselang....."}} Istilah ''serayo'' atau ''nyanyo'' lebih dekat pada pengucapan yang dipengaruhi oleh [[Bahasa Minangkabau|bahasa Minang]],{{sfnp|Rusmali|1985|p=259|ps=: "Tolong: - urang mangarajoannyo, tolongan orang mengerjakannya....."}}{{sfnp|Ardi|2018|p=105|ps=: "At TL1 the translators choose to use the Minangkabaunese in its original form to introduce and remind the social culture of 'sarayo' or 'manyarayo' in Minangkabau culture....."}} sedangkan istilah ''baselang'' atau ''berselang'' lebih dekat pengucapannya pada [[bahasa Melayu]].{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=122|ps=: "Pengucapan istilah serayo atau nyanyo lebih dekat kepada bahasa Minang, sedangkan pengucapan baselang atau berselang lebih dekat kepada bahasa Melayu....."}} ''Serayo'' atau ''nyanyo'' berarti "menyampaikan maksud yang akan dikerjakan", sedangkan ''baselang'' atau ''berselang'' berarti "[[kerja sama]] dalam bidang mata pencaharian hidup". Pada prinsipnya, ''serayo'' merupakan gotong royong yang menguntungkan individu atau memenuhi kepentingan seseorang yang meminta bantuan untuk mengerjakan sesuatu. Adapun permintaan tersebut dilakukan oleh salah satu pihak kepada kaum kerabat terdekatnya, para tetangga yang berada di dekat rumahnya, maupun warga sekampung (kelurahan ataupun dusun). Orang yang dimintai pertolongan akan memberikan bantuan sesuai dengan permintaan pihak yang memerlukan bantuan.{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=122-123|ps=: "Permintaan serayo dilakukan oleh salah satu pihak kepada kerabat, tetangga, dan warga yang berada di sekitar rumah tempat tinggalnya....."}} Dalam sistem ''serayo'' terlihat adanya unsur kerja sama dalam mengerjakan sesuatu yang dipimpin oleh orang yang meminta pertolongan. Orang yang diminta biasanya tidak menolak dan ada ekspektasi bahwa warga akan "membalas" kebaikan sebelumnya. == Latar belakang == [[Berkas:Mount Kerinci from Kayuaro.jpg|jmpl|Gunung Kerinci yang menjadi bentang alam tempat tinggal suku Kerinci.]] Kelompok masyarakat atau permukiman suatu suku bangsa biasanya merupakan cerminan dari seluruh wujud kebudayaan dalam masyarakat yang mendiami wilayah tersebut.{{sfnp|Harsono|1994|p=4|ps=: "Wujud kebudayaan dari suatu kelompok masyarakat terkadang menjadi suatu identitas, ciri khas, serta kebanggaan dari masyarakat yang menjadi pendukungnya....."}} Sebagai salah satu suku yang dikenal dekat dengan alam, suku Kerinci banyak melahirkan kebudayaan dan kearifan lokal yang kaya akan nilai kultural.<ref name=":1">{{Cite web|url=http://www.wacana.co/2014/04/suku-kerinci/|title=Suku Kerinci, Jambi|last=Wacana.co|first=|date=|website=|publisher=|access-date=28 Maret 2019}}</ref><ref>{{Cite web|url=http://www.indonesia-heritage.net/2013/09/upacara-adat-dan-kesenian-tradisional-suku-kerinci/|title=Upacara Adat dan Kesenian Tradisional Suku Kerinci|last=Jaringan Kota Pusaka Indonesia|first=|date=|website=|publisher=|access-date=29 Maret 2019}}</ref> Beragam benda budaya yang dapat ditemukan di berbagai pelosok alam Kerinci antara lain batu [[megalit]], [[punden berundak]], [[menhir]], dan berbagai [[artefak]] lainnya, termasuk prasasti Kerinci (lebih dikenal dengan nama Tambo Kerinci)<ref>{{Cite web|url=http://www.pustaka-bpnbkalbar.org/pustaka/tambo-sakti-alam-kerinci-buku-pertama|title=Tambo Sakti Alam Kerinci|last=Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat|first=|date=|website=|publisher=|access-date=29 Maret 2019}}</ref> yang ditulis pada daun [[lontar]], tanduk, dan ruas bambu yang berumur ribuan tahun.<ref>{{Cite web|url=https://www.indonesia-heritage.net/2014/05/sekilas-tentang-peninggalan-budaya-suku-kerinci-2/|title=Peninggalan Budaya Suku Kerinci|last=Tumenggung|first=Budhi VJ. Rio|date=|website=|publisher=|access-date=29 Maret 2019}}</ref>[[Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Vrouwen_en_kinderen_uit_een_Kerintisch_dorp_West-Sumatra_TMnr_10002859.jpg|pra=https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Vrouwen_en_kinderen_uit_een_Kerintisch_dorp_West-Sumatra_TMnr_10002859.jpg|jmpl|Wanita dan anak-anak desa [[Suku Kerinci]] pada masa [[Hindia Belanda|Hindia-Belanda]].|al=]]Suku Kerinci adalah suku asli yang mendiami wilayah Dataran Tinggi Kerinci yang berada di [[Jambi]]. Masyarakat suku Kerinci merupakan salah satu bagian dari [[Melayu Proto|Proto-Melayu]] di [[Nusantara]] yang memiliki beragam peninggalan kebudayaan masa lampau hingga peninggalan sejarah masa kini.{{sfnp|Yolla Ramadani dan Astrid Qommaneeci|2018|p=74|ps=: "Suku Kerinci adalah suku asli di Provinsi Jambi. Suku Kerinci merupakan suku Melayu tertua yang ada di Nusantara, yang memiliki beragam peninggalan kebudayaan masa lampau hingga peninggalan sejarah masa kini....."}}{{sfnp|Hadiyanto dan Sovia Wulandari|2018|p=229|ps=: “Masyarakat Kerinci adalah bagian dari suku Melayu....."}} Adapun "Kerinci" adalah nama awal sebuah gunung serta danau dan wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan demikian, daerahnya disebut dengan Kerinci (Kurinchai'','' Kunchai, atau Kinchai dalam logat asli), sedangkan penduduknya disebut dengan orang Kerinci atau suku Kerinci. Pada masa lalu, lembah Kerinci telah dihuni oleh penduduk pribumi yang disebut sebagai ''Kecik Wok Gedang Wok''.<ref>{{Cite web|url=https://www.negerisatu.id/2018/12/suku-kincai-peradaban-melayu-tertua-di-kerinci/|title=Suku Kincai, Peradaban Melayu Tertua di Kerinci|last=Negerisatu|first=|date=|website=|publisher=|access-date=29 Maret 2019}}</ref> == Asal-usul == Tidak diketahui secara pasti mengenai awal-mula dilakukannya kegiatan ''serayo'' oleh masyarakat suku Kerinci. Faktor yang membuat munculnya sistem ''serayo'' (terutama dalam bidang pertanian) adalah adanya kepemilikan tanah pertanian, baik milik sendiri maupun milik kerabat (tanah pusaka) atau milik adat (tanah adat).{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=123-124|ps=: "Faktor yang menimbulkan permintaan serayo dalam bidang pertanian adalah adanya kepemilikan tanah pusaka maupun tanah milik adat....."}} Mereka yang memiliki lahan pertanian luas akan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengolah dan merawat lahannya, sedangkan mereka yang tidak memiliki lahan pertanian biasanya akan menumpang tanam atau mengerjakan lahan pertanian dari pemilik lahan dengan sistem bagi hasil. Selain itu, kegiatan ''serayo'' dalam bidang kemasyarakatan juga tumbuh karena adanya kesadaran dalam kelompok masyarakat kecil, seperti halnya kegiatan gotong royong lain di daerah pedesaan.{{sfnp|Novendra|2010|p=44|ps=: "Mereka yang memiliki tanah pertanian luas akan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengolah serta merawat tanahnya....."}} Sejak zaman dahulu, masyarakat suku Kerinci mengerjakan sawah maupun terlibat dalam berbagai kegiatan yang bersifat umum dilakukan secara gotong royong tanpa memberikan upah kepada orang yang telah membantunya. Imbalan yang diterima hanya berupa makanan dan minuman yang disantap bersama dan disediakan oleh pihak yang meminta bantuan. Pada waktu yang lain, ketika pihak yang memberikan bantuan memerlukan pertolongan, maka pihak yang telah menerima bantuan memiliki kewajiban untuk membalas jasa pihak yang telah membantunya.{{sfnp|Novendra|2010|p=44-45|ps=: "Sejak zaman dahulu, masyarakat suku Kerinci mengerjakan sawah maupun terjun bersama dalam hal-hal maupun kegiatan yang bersifat umum secara gotong royong tanpa memberikan upah kepada orang yang telah membantunya. Kerja sama yang dilakukan dalam serayo pada pokoknya berlandaskan asas timbal balik. Imbalan yang diterima hanya berupa makanan dan minuman yang disantap bersama....."}} Kegiatan ''serayo'' dalam bidang mata pencaharian hidup hanya dilakukan untuk mengolah lahan pertanian dan perkebunan, seperti menanam padi di sawah dan membersihkan ladang atau kebun. Dalam bidang peternakan hanya dikenal sistem penggembalaan ternak yang dilakukan dengan bagi hasil antara pemilik ternak dengan orang yang memeliharanya.{{sfnp|Novendra|2010|p=45|ps=: "Kegiatan serayo dalam bidang mata pencaharian hidup hanya dilakukan untuk mengolah lahan pertanian dan perkebunan....."}} Adapun kegiatan ''serayo'' dalam bidang mata pencaharian hidup lain adalah membuka hutan untuk dijadikan sebagai kebun atau ladang. Upaya tersebut dapat memupuk sifat gotong royong karena dalam kegiatan ini biasanya para pelakunya akan saling membantu dan secara bergiliran mengerjakan bagian masing-masing.{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=132|ps=: "Kegiatan serayo lain dalam bidang mata pencaharian hidup adalah membuka hutan untuk dijadikan sebagai kebun atau ladang....."}} Menurut Marbakri, sistem ''serayo'' pada akhirnya melahirkan suatu kesadaran sebagai hasil dari pergaulan sosial mereka terhadap warga masyarakat di lingkungan sekitarnya yang mempunyai implikasi positif terhadap kesatuan dan persatuan. Hal ini disebabkan karena unsur utama dari ''serayo'' adalah gotong royong atau kerja sama guna mewujudkan keteraturan sosial dalam masyarakat.{{sfnp|Marbakri|1983|p=62|ps=: “Serayo atau gotong royong adalah bentuk kerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan asas timbal balik (resiprositas) guna mewujudkan keteraturan sosial dalam masyarakat....."}} == Bentuk == ''Serayo'' merupakan suatu ajakan atau permintaan dari seseorang untuk melaksanakan gotong royong menyelesaikan pekerjaan tanpa upah. Sistem ''serayo'' tidak mengenal adanya pembagian tingkatan kerja berdasarkan keahlian. Hal ini disebabkan karena ''serayo'' sudah berulang kali dilaksanakan dalam masyarakat. Keahlian akan dipilah-pilah ketika dilaksanakan gotong royong dalam mendirikan rumah dan upacara keagamaan.{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=130|ps=: "Dalam sistem serayo tidak mengenal adanya pembagian tingkat kerja berdasarkan keahlian dan keterampilan. Pembagian tersebut baru ada ketika dilaksanakan serayo dalam mendirikan rumah atau upacara keagamaan....."}} Pembagian kerja dalam aktivitas membuat rumah memang diperlukan mengingat rumah dibuat sebagai tempat berlindung dalam jangka waktu yang lama, sedangkan pembagian kerja dalam gotong royong upacara keagamaan sangat diperlukan karena tidak semua masyarakat suku Kerinci benar-benar paham dengan adat. ''Serayo'' dalam upacara keagamaan biasanya dipimpin oleh ''sko depati'' (pemimpin adat tertinggi){{efn|Proses pengangkatan ''sko depati'' dilakukan berdasarkan musyawarah dari anggota masyarakat. Pengangkatan ketua adat ini disebut dengan ''kenduri sko''. ''Sko depati'' memiliki pusaka ''depati'', misalnya memerintahkan gotong royong kepada seluruh ''ninik mamak'' maupun ''anak jantan'' dan ''anak betino'' ({{harvnb|Subiyantoro, dkk|2017|pp=134}}).}} dan ''sko ninik mamak'' (pemimpin dalam kekerabatan).{{efn|''Sko ninik mamak'' juga disebut dengan ''sengajo tuo kinantan lidah''. ''Sko ninik mamak'' mempunyai pusaka gelar ''rio sri'', ''singajo'', dan ''ria gemang'' ({{harvnb|Subiyantoro, dkk|2017|pp=134}}).}}{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=134|ps=: "Serayo dalam upacara keagamaan biasanya dipimpin oleh sko depati (pemimpin adat tertinggi) dan sko ninik mamak (pemimpin dalam kekerabatan)....."}} Adapun upacara keagamaan tersebut antara lain upacara lingkaran hidup (kehamilan, kelahiran, pernikahan, dan kematian), upacara membuka tanah, dan upacara mendirikan rumah. Pemberitahuan ''serayo'' pada masa lampau dilakukan dengan cara memukul ''canang'' (gong kecil) mengelilingi kampung, tetapi ada juga yang mengunjungi rumah orang-orang yang hendak dimintai pertolongan sambil membawa ''sirih [[pinang]]'' untuk dicicipi kaum kerabat atau tetangga dekat yang didatangi. Apabila dirasa sudah cukup banyak orang yang didatangi, si pembawa ''sirih pinang'' akan kembali ke rumahnya karena dia menginginkan bantuan tenaga dari orang yang dikunjungi saja.{{sfnp|Novendra|2010|p=41-42|ps=: "Di masa lalu, masyarakat Kerinci melakukan pemberitahuan serayo dengan cara memukul canang (gong kecil) keliling kampung. Ada juga pemberitahuan dengan mengunjungi tiap rumah orang-orang terdekatnya sambil membawa sirih pinang....."}} Kegiatan ''serayo'' dibagi menjadi dua berdasarkan jumlah orang yang berpartisipasi di dalamnya. Kegiatan gotong royong ''serayo'' berskala kecil atau kelompok kecil disebut dengan ''mbobo'', yaitu hanya diikuti oleh 5-10 orang. Adapun kegiatan gotong royong ''serayo'' berskala besar disebut dengan ''andin'', yaitu diikuti oleh lebih dari 10 orang. ''Serayo'' berskala besar biasanya ditujukan untuk membuka ladang. gotong royong ''serayo'' dalam kelompok kecil atau ''mbobo'' biasanya diikuti oleh ''sko tigo takah'' (tiga perangkat pemimpin informal)''.'' Kelompok kecil dari ''sko tigo takah'' ini antara lain ''sko depati'' (pemimpin adat tertinggi)'', sko ninik mamak'' (pemimpin dalam kekerabatan)'','' serta ''sko anak jantan'' atau ''tengganai'' dan ''sko anak betino'' atau ''semenda'' (laki-laki dan perempuan dewasa)''. Serayo'' dalam ruang lingkup ini hanya diikuti oleh orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain. Biasanya, ''serayo'' ini dilakukan erat kaitannya dengan pengolahan tanah pusaka.{{sfnp|Novendra|2010|p=42-43|ps=: "Serayo berskala kecil disebut dengan mbobo, sedangkan serayo berskala besar disebut dengan andin. Serayo mbabo biasanya diikuti oleh sko tigo takah. Kelompok kecil dari sko tigo takah ini antara lain: sko depati, sko ninik mamak, dan sko anak jantan atau sko anak betino....."}} Sistem ''serayo'' telah melembaga di dalam kehidupan masyarakat Kerinci dan mereka memiliki kewajiban untuk memenuhinya sebagai kewajiban sosial. Kerabat dekat maupun tetangga yang menerima permintaan ''serayo'' biasanya tidak mungkin menolak. Hal ini disebabkan karena seseorang yang mau memberikan bantuannya berharap apa yang dilakukannya nanti akan mendapatkan balasan dari orang yang telah dibantunya. Mereka harus membalas budi bantuan yang telah diberikan suatu saat nanti.{{sfnp|Marbakri|1983|p=26|ps=: “Kegiatan serayo ataupun gotong royong lain menimbulkan sifat kewajiban timbal balik di antara orang yang hidup di dalam masyarakat. Adanya sistem tolong-menolong menimbulkan rasa yang dimiliki mereka bahwa dalam kenyataan hidup sehari-hari saling membutuhkan satu sama lain sebagai keseluruhan hidup dalam masyarakat....."}} Bagi masyarakat yang tidak pernah aktif dalam kegiatan ''serayo'', orang tersebut tidak akan ditolong apabila mempunyai maksud mengerjakan sesuatu. == Ketentuan == Ketentuan yang selama ini berlaku dalam sistem ''serayo'' bukanlah berdasarkan perjanjian [[Hukum perdata|perdata]]. Tidak ada ketentuan formal dalam ''serayo'' karena sistem ini telah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan pada masa lampau oleh nenek moyang suku Kerinci, seperti layaknya sistem gotong royong yang berada di daerah lain di Indonesia. ''Serayo'' dilaksanakan dari awal sampai selesai, biasanya dimulai sejak pagi hari sampai dengan sore hari. Apabila pada siang hari aktivitas ''serayo'' belum selesai, maka mereka akan kembali ke rumah untuk melaksanakan ibadah [[Salat Zuhur|salat zuhur]] atau makan siang bersama di sekitar tempat gotong royong tersebut dilaksanakan.{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=128|ps=: "Ketentuan dalam serayo tidak berdasarkan hitam di atas putih, asalkan pekerjaan yang dilaksanakan dapat segera terselesaikan....."}} Makanan dan minuman yang disediakan dalam ''serayo'' dalam bahasa setempat dinamakan dengan ''minum kwo. Minum kwo'' sudah menjadi kelaziman untuk disediakan mengingat yang melakukan ''serayo'' tentu akan haus dan lapar. Apabila ''minum kwo'' ini tidak disediakan, orang yang meminta tolong dianggap sebagai orang yang pelit. Keluarga yang pelit biasanya tidak banyak yang mau membantu jika meminta bantuan, meskipun itu kaum kerabatnya sendiri. Bagi orang-orang atau keluarga yang jarang atau tidak pernah mau mengikuti ''serayo,'' konsekuensinya mereka tidak akan ditolong ketika meminta bantuan. Seseorang baru mau menolong apabila bantuannya diberikan upah berupa uang atau padi sebanyak yang telah disepakati.{{sfnp|Subiyantoro, dkk|2017|p=128-129|ps=: "Makanan dan minuman yang disediakan untuk serayo dalam istilah setempat dinamakan dengan minum kwo......"}} == Hasil == Kegiatan ''serayo'' dapat mengurangi beban kerja individu dalam masyarakat Kerinci. Kegiatan mengolah sawah, mendirikan rumah, ataupun melaksanakan upacara keagamaan sulit untuk dilakukan sendiri. Untuk memudahkan pekerjaan tersebut, diperlukan bantuan tenaga orang lain. Cara termudah dan murah adalah dengan melakukan kegiatan ''serayo'' bersama-sama keluarga dekat maupun tetangga.{{sfnp|Novendra|2010|p=55-56|ps=: "Kegiatan serayo begitu bermanfaat karena meringankan beban kerja karena tidak mungkin rasanya semua pekerjaan dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain....."}} Dari segi non-material, kegiatan ''serayo'' mempererat hubungan kekeluargaan antar warga sebuah desa. Menurut Novendra, kegiatan gotong royong ''serayo'' menghasilkan ikatan yang lebih kokoh antara sesama peserta karena mereka akan merasa bahwa pekerjaan tersebut adalah tanggung jawab bersama. Melalui ''serayo'', aktivitas ini menjadi salah satu unsur persatuan dan kesatuan di antara sesama masyarakat suku Kerinci.{{sfnp|Novendra|2010|p=56|ps=: "Serayo bermanfaat untuk mempererat tali silaturahmi maupun hubungan kekeluargaan di antara sesama peserta. Aktivitas ini menjadi salah satu unsur dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan....."}} == Lihat pula == {{portal|Budaya|Indonesia}} * [[Gotong royong]] * [[Gunung Kerinci]] * [[Jambi|Provinsi Jambi]] * [[Suku Kerinci]] == Catatan == {{notes}} == Rujukan == {{reflist|2}} == Daftar pustaka == '''Buku''' * {{cite book|title=Pola Pemukiman Masyarakat Kubu|last=Harsono|first=Dibyo|publisher=Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang|year=1994|isbn=|location=Tanjungpinang|pages=|ref={{sfnref|Harsono|1994}}}} * {{cite book|title=Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Riau|last=Marbakri|first=dkk|publisher=Departemen Pendidikan dan Kebudayaan|year=1983|isbn=|location=Pekanbaru|pages=|ref={{sfnref|Marbakri, dkk|1983}}}} * {{cite book|title=Sistem Gotong Royong Pada Suku Bangsa Kerinci (Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi)|last=Novendra|first=|publisher=Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang|year=2010|isbn=|location=Tanjungpinang|pages=|ref={{sfnref|Novendra|2010}}}} * {{Cite book|title=Kamus Minangkabau-Indonesia|last=Rusmali|first=Marah|publisher=Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan|year=1985|isbn=|location=Jakarta|page=|url=https://core.ac.uk/download/pdf/143974905.pdf|ref={{sfnref|Rusmali|1985}}}} * {{Cite journal|last=Subiyantoro|first=dkk|year=2017|title=Sistem Gotong Royong dalam Mengerjakan Sawah Pada Suku Bangsa Kerinci di Provinsi Jambi|url=|journal=Makalah Seminar Nasional Hasil Penelitian BPNB Se-Indonesia|volume=|issue=|pages=|doi=|Lokasi=|Penerbit=|ref={{sfnref|Subiyantoro, dkk|2017}}}} Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. '''Jurnal Ilmiah''' * {{Cite journal|last=Ardi|first=Havid|year=Januari 2018|title=Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Penerjemahan Teks Bahasa Inggris|url=http://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/jeel/article/download/980/709|journal=Journal of English Education, Linguistics, and Literature|publisher=|volume=Vol. 5, No. 1|issue=|pages=|doi=|issn=2598-3059|ref={{sfnref|Ardi|2018}}}} * {{Cite journal|last=Hadiyanto dan Sovia Wulandari|first=|date=Desember 2018|title=Ungkapan Tradisional Masyarakat Kerinci: Kajian Bentuk dan Telaah Makna|url=https://online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/5802/3961|journal=Titian: Jurnal Ilmu Humaniora|volume=Vol. 2, No. 2|issue=|doi=|issn=2597-7229|pmid=|access-date=|ref={{sfnref|Hadiyanto dan Sovia Wulandari|2018}}}} * {{Cite journal|last=Yolla Ramadani dan Astrid Qommaneeci|first=|date=Juni 2018|title=Pengaruh Pelaksanaan Kenduri Sko (Pesta Panen) Terhadap Perekonomian dan Kepercayaan Masyarakat Kerinci, Provinsi Jambi|url=http://jurnalantropologi.fisip.unand.ac.id/index.php/jantro/article/view/95|journal=Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial-Budaya|volume=Vol. 20, No. 1|issue=|doi=|issn=1410-8356|pmid=|access-date=|ref={{sfnref|Yolla Ramadani dan Astrid Qommaneeci|2018}}}} == Pranala luar == * [http://www.indonesia-heritage.net/2014/05/bupati-perintahkan-dinas-porabudpar-dan-dinas-pendidikan-untuk-gali-prasasti-kerinci-2/ Bupati Perintahkan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata dan Dinas Pendidikan Untuk Gali Prasasti Kerinci]. * [http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/5690/09E01338.pdf?sequence=1&isAllowed=y Jati Diri Masyarakat Kerinci dalam Sastra Lisan Kerinci]. * [https://properti.kompas.com/read/2011/04/12/1647567/kerinci.sekepal.tanah.surga Kerinci, Sekepal Tanah Surga]. * [http://ipll.manoa.hawaii.edu/indonesian/research/tambo-kerinci/ Tambo Kerinci]. [[Kategori:Budaya Indonesia]] [[Kategori:Jambi]] <noinclude> <small>This page was moved from . It's edit history can be viewed at [[Serayo/edithistory]]</small></noinclude>delete|tidak diterjemahkan}} All content in the above text box is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike license Version 4 and was originally sourced from https://map-bms.wikipedia.org/w/index.php?diff=prev&oldid=208296.
![]() ![]() This site is not affiliated with or endorsed in any way by the Wikimedia Foundation or any of its affiliates. In fact, we fucking despise them.
|