Difference between revisions 5012666 and 5063581 on mswiki

{{Dati2
| nama=Kabupaten Tanah Bumbu
| propinsi= [[Kalimantan Selatan]]
| ibukota= [[Batulicin, Tanah Bumbu|Batulicin]]
| luas= 5.066,96 km²
| penduduk= 226.208 orang (2008)<ref>[http://kalsel.bps.go.id/?set=viewDataDetail&flag_template2=1&id_sektor=13&id=177 BPS Provinsi Kalimantan Selatan - Penduduk menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008]</ref>
| kepadatan= 36,39
| kecamatan=10
| kelurahan=
| kodearea=
| dau=Rp. -
| lambang= [[File:Lambang Kabupaten Tanah Bumbu.jpg|150px]]
| peta= [[Fail:Lokasi Kalimantan Selatan Kabupaten Tanah Bumbu.svg‎|300px]]
| koordinat= 2,52' - 3,47' LS dan 115,15' - 116,04' BT
| dasar hukum=
| tanggal=
| motto= Bersujud
| kepala daerah=[[Bupati]]
| nama kepala daerah=Zairullah Azhar
| web=http://www.tanahbumbukab.go.id/
}}
'''Kabupaten Tanah Bumbu''' merupakan [[Daerah Tingkat II]] di [[provinsi]] [[Kalimantan Selatan]], [[Indonesia]]. [[Ibu kota]] [[kabupaten]] ini terletak di [[Batulicin, Tanah Bumbu|Batulicin]]. <!--Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.066,96 km² dan jumlah penduduk sebanyak 184.006 jiwa (2000).

== Sejarah ==
Pada masa kolonial Hindia Belanda, wilayah Kabupaten Tanah Bumbu terdiri atas 5 daerah : Kerajaan [[Batoe Litjin]], [[Kerajaan Kusan]], [[Kerajaan Pagatan]], Kerajaan [[Sabamban]] dan [[Distrik Satui]] (bagian dari [[Afdeeling Tanah Laoet]])
* Sejak dahulu kala wilayah tenggara pulau Kalimantan bukanlah daerah tidak bertuan karena daerah ini juga sudah dihuni oleh penduduk asli Kalimantan. Di daerah Cantung terdapat sebuah yoni yang menunjukkan adanya pengaruh agama Hindu memasuki wilayah ini. Sebelum terjadinya migrasi suku Bugis ke wilayah ini, menurut Hikayat Banjar yang bab terakhirnya ditulis tahun [[1663]], seluruh wilayah tenggara Kalimantan menjadi bagian dari Kerajaan Pasir dibawah pemerintahan Aji Tunggul sebagai bawahan Sultan Banjar IV Mustain-Bilah/Marhum Panembahan. Belakangan Sultan Banjar mengambil wilayah Kalimantan Tenggara untuk diperintah keturunannya dengan nama Kerajaan Tanah Bumbu.
* Dalam Hikayat Banjar menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-17 Sultan Makassar meminjam tanah untuk berdagang yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Tanah Bumbu dan Kalimantan Timur kepada Sultan Banjar IV Mustain Billah, pada waktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan mengadakan perjanjian dengan I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang yaitu Sultan Tallo yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa tahun 1638-1654 yang akan menjadikan wilayah tenggara dan timur Kalimantan sebagai tempat berdagang bagi Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)<ref name="hikayat banjar">{{ms}}[[Johannes Jacobus Ras]], [[Hikayat Banjar]] halaman 350, diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - [[Selangor]] Darul Ehsan, [[Malaysia]] [[1990]].</ref>, dengan demikian mulai berdatanganlah suku-suku dari Sulawesi dengan bukti adanya makam Islam tertua dari seorang putri dari suku Mandar yang bernama Nyai Galih. 
* [[1660]]-[[1700]], atas permintaan suku Dayak setempat dalam rangka mengamankan wilayah dan antisipasi banyaknya pendatang dari luar maka Pangeran Dipati Tuha (Raden Basus) putera Sultan Saidullah ditunjuk sebagai raja membawahi wilayah antara Tanjung Silat sampai Tanjung Aru yang dinamakan Kerajaan Tanah Bumbu dengan pusat pemerintahan di daerah Pamukan. Pangeran Dipati Tuha digantikan puteranya Pangeran Mangu dan seorang putera lainnya Pangeran Citra menjadi sultan negeri Kelua. Pangeran Mangu (1700-1740) digantikan putrinya yaitu Ratu Mas. Ratu Mas (1740-1780) menikahi dengan Daeng Malewa yang bergelar Pangeran Dipati; pasangan ini beranak Ratu Intan I, Pangeran Prabu dan Pangeran Layah<ref>[http://www.guide2womenleaders.com/indonesia_substates.htm Ratu Mas dari Tanah Bumbu ]</ref> 
* [[1733]] : Puana Dekke miminjam tanah di wilayah Tanah Kusan kepada Sultan Tamjidullah I yang kelak dinamakan Pagatan.
* [[1775]] : [[La Pangewa]]/Hasan Pangawa?/Panggawa Tatieop?, selaku pemimpin [[orang Bugis-Pagatan]] direstui Adji Djawa? penguasa kerajaan Bangkalaan/keturunan Pangeran Dipati Tuha-Raja Tanah Bumbu untuk menggantikan Puana Dekke dan kemudian ia juga direstui oleh Sultan [[Tahmidullah II]] sebagai raja pertama [[Kerajaan Pagatan]], setelah menggempur Pangeran Amir ([[Raja Kusan]] I) yang menyingkir hingga ke [[Kuala Biaju]] untuk meminta bantuan suku Dayak dan Bakumpai.
* [[1780]] : Kerajaan Tanah Bumbu dipecah menjadi wilayah utara menjadi kerajaan Bangkalaan yang dipimpin Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh, dan wilayah selatan di bawah Ratu Intan I yang dikenal sebagai Ratu Cantung dan Batulicin. Ratu Intan I menikahi Sultan Anom dari Pasir berputra Pangeran Haji Muhammad/Maj Pangeran, Andin Kedot, Andin Girok, dan Andin Proah. Pangeran Layah beranak Gusti Cita dan Gusti Tahora. Kelak penguasa utama daerah-daerah ini dibawah keturunan dari Pangeran Dipati Tuha.
* [[1785]] : [[Pangeran Amir]] seorang keturunan dinasti Sultan Kuning dibantu [[Arung Tarawe]] menyerang Tabaneo dengan pasukan 3000 orang Bugis-Paser berkekuatan 60 buah perahu untuk menuntut [[tahta]] [[Kesultanan Banjar]] dari [[Tahmidullah II]].
* [[14 Mei]] [[1787]] : [[Pangeran Amir]] (kakeknya [[Pangeran Antasari]]) ditangkap Kompeni Belanda, kemudian diasingkan ke [[Srilangka]]. 
* [[13 Agustus]] [[1787]] : Sultan [[Tahmidullah II dari Banjar]] menyerahkan kedaulatan [[Kesultanan Banjar]] kepada [[VOC]] menjadi daerah protektorat dengan Akte Penyerahan di depan Residen Walbeck, setelah VOC berhasil menyingkirkan Pangeran Amir, rivalnya dalam perebutan tahta. Sebagian besar [[Kalimantan]] menjadi [[properti]] [[perusahaan]] VOC.
* [[1788]] : [[Sultan Dipati Anom Alamsyah]] menjadi [[Sultan Pasir]] III sampai tahun [[1799]]. Sultan ini menikahi [[Ratu Intan I]] yaitu Ratu dari [[Tjangtoeng]] dan [[Batoe Litjin]]. 
* [[1789]] : Kedaulatan atas daerah Pasir dan Pulau Laut diserahkan VOC kembali kepada Sultan Banjar, [[Tahmidullah II]].
* [[1826]] : [[4 Mei]] [[1826]] (26 Ramadhan 1241 H) Sultan Banjar (Sultan Adam al-Watsiq Billah), menyerahkan wilayah tenggara dan timur Kalimantan beserta daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

== Geografis ==
Secara geografis Kabupaten Tanah Bumbu terletak di antara: 2°52’ – 3°47’ Lintang Selatan dan 115°15’ – 116°04’ Bujur Timur.
Kabupaten Tanah Bumbu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang terletak persis di ujung tenggara Pulau Kalimantan, memiliki luas wilayah sebesar 5.066,96 km2 (506.696 Ha) atau 13,50 persen dari total luas Provinsi Kalimantan Selatan.<ref>[http://tanahbumbukab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid=6 Pemkab Tanah Bumbu] Diakses : 14 Oktober 2009.</ref>

Batas wilayah Kabupaten Tanah Bumbu adalah :
{{batas_USBT
|utara=[[Kabupaten Kotabaru]] dan [[Kabupaten Hulu Sungai Tengah]] 
|barat=[[Kabupaten Tanah Laut]] dan [[Kabupaten Banjar]] 
|timur=[[Kabupaten Kotabaru]] 
|selatan=[[Laut Jawa]]
}}-->

== Kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu ==
[[Kabupaten Tanah Bumbu]] memiliki 10 kecamatan, yaitu :
# [[Angsana, Tanah Bumbu]]
# [[Batulicin, Tanah Bumbu]]
# [[Kuranji, Tanah Bumbu]]
# [[Kusan Hilir, Tanah Bumbu]]
# [[Kusan Hulu, Tanah Bumbu]]
# [[Mentewe, Tanah Bumbu]]
# [[Satui, Tanah Bumbu]]
# [[Simpang Empat, Tanah Bumbu]]
# [[Sungai Loban, Tanah Bumbu]]
# [[Karang Bintang, Tanah Bumbu]]

== Suku Bangsa ==

# [[Suku Banjar]]
# [[Suku Dayak Bukit]]
# [[Suku Bugis]]
# [[Suku Mandar]]
# [[Suku Jawa]]
# [[Suku Bali]]
# [[Suku Sunda]]
# [[Orang Cina Indonesia|Suku Cina-Indonesia]]

<!--== Lagu Daerah ==

Lagu daerah dari kabupaten ini antara lain adalah [[b:Tanah Bumbu/Lagu|Tanah Bumbu]], [[b:Mahadang Ading|Mahadang Ading]] dan [[b:Baikat Janji|Baikat Janji]].-->

== Rujukan ==
{{reflist}}

== Pautan luar ==

* [http://www.tanahbumbukab.go.id/ Situs web resmi]
* http://books.google.co.id/books?id=rfgeAAAAMAAJ&q=Adapun&dq=pangeran+maj+musa&source=gbs_word_cloud_r&cad=3
* http://books.google.co.id/books?pg=PA344&dq=pangeran+praboe+tanah+boemboe&lr=&id=exRJAAAAMAAJ#v=onepage&q=pangeran%20praboe%20tanah%20boemboe&f=false
* http://books.google.co.id/books?id=exRJAAAAMAAJ&dq=pangeran%20praboe%20tanah%20boemboe&lr=&pg=PA344#v=onepage&q=pangeran%20praboe%20tanah%20boemboe&f=false
* http://archive.is/20120726092414/arizali47.wordpress.com/2009/06/24/70/
{{Kabupaten Tanah Bumbu}}
{{Kalimantan Selatan}}
{{Indo-geo-stub}}

[[Kategori:Kabupaten di Kalimantan Selatan|Tanah Bumbu]]
[[Kategori:Kabupaten di Indonesia|Tanah Bumbu]]
[[Kategori:Kabupaten Tanah Bumbu| nama=Kabupaten Tanah Bumbu<br />كابوڤاتين تانه بومبو
|propinsi=[[Kalimantan Selatan]]
|ibukota=[[Batulicin, Tanah Bumbu|Batulicin]]
|luas= 5066.96
|penduduk= 324277
|penduduktahun= (2015)<ref>[https://tanahbumbukab.bps.go.id/index.php/publikasi/997/"Kabupaten Tanah Bumbu Dalam Angka 2016"]</ref>
|kepadatan= 
|agama =[[Islam]] 97.06%<br> [[Hindu]] 1.74%<br> [[Protestan]] 0.64%<br> [[Katolik]] 0.51%<br> [[Kaharingan]] 0.03%<br> [[Buddha]] 0.02%<ref>[https://tanahbumbukab.bps.go.id/index.php/publikasi/997/"Kabupaten Tanah Bumbu Dalam Angka 2016"]</ref>
|kecamatan=10
|kelurahan=
|kodearea=0518
|dau = Rp398.801.458.000.-
|dauref = (2013)<ref>{{cite web|url=http://www.djpk.depkeu.go.id/regulation/27/tahun/2013/bulan/02/tanggal/04/id/873/|title=Perpres No. 10 Tahun 2013|date=2013-02-04|accessdate=2013-02-15|archive-date=2013-02-14|archive-url=https://web.archive.org/web/20130214064515/http://www.djpk.depkeu.go.id/regulation/27/tahun/2013/bulan/02/tanggal/04/id/873|dead-url=yes}}</ref>
|lambang=[[File:Lambang Kabupaten Tanah Bumbu.jpg|pus|120px]]
|peta= [[File:Lokasi Kalimantan Selatan Kabupaten Tanah Bumbu.svg‎|200px]]
|koordinat= 2,52' - 3,47' LS dan 115,15' - 116,04' BT
|dasar hukum=UU No. 2 Tahun 2002 tanggal 20 Maret 2002
|hari jadi ={{birth date and age|2003|4|08}}
|motto= '''Bersujud'''{{br}}<small>''artinya:'' Bersih, jujur, dan adil</small>
|kepala daerah=[[Daftar Bupati Tanah Bumbu|Bupati]]
|nama kepala daerah=[[Zairullah Azhar]]
|web={{URL|http://www.tanahbumbukab.go.id/}}
|suku bangsa=[[Banjar]], [[Dayak]], [[Bugis]], [[Mandar]]}}

'''Kabupaten Tanah Bumbu''' adalah salah satu [[kabupaten]] di provinsi [[Kalimantan Selatan]], [[Indonesia]]. Sebelumnya kabupaten ini termasuk dalam wilayah [[Kabupaten Kotabaru]]. Secara historis semula dinamakan Daerah Tingkat II Persiapan '''Tanah Bumbu Selatan'''.<ref>{{id}} {{cite book
 |pages=16
 |url=https://books.google.co.id/books?id=bjweAAAAIAAJ&q=bantam-raya+kalimantan+selatan&dq=bantam-raya+kalimantan+selatan&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiIpfav-pzVAhXJp48KHSQqBnAQ6AEIITAA
 |title=Data daerah Kalimantan Selatan
 |author=Kalimantan Selatan (Indonesia). Biro Perentjanaan dan Pembangunan
 |publisher=Kalimantan Selatan (Indonesia). Biro Perentjanaan dan Pembangunan
 |year=1972}}</ref>

Ibu kota kabupaten terletak di [[Batulicin, Tanah Bumbu|Batulicin]], dam pusat pemerintahan kabupaten berada di Kelurahan [[Gunung Tinggi, Batulicin, Tanah Bumbu|Gunung Tinggi]] yang dulunya bernama Desa Pondok Butun. Adapun yang menjadi sentra kegiatan usaha dan ekonomi adalah kecamatan [[Simpang Empat, Tanah Bumbu|Simpang Empat]], yang dulunya merupakan bagian dari Kecamatan Batulicin.

Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.066,96km² dan jumlah penduduk sebanyak 267.913 jiwa (hasil [[Sensus Penduduk Indonesia 2010]]), dan pada tahun 2014 berdasarkan proyeksi penduduk, jumlah penduduk Tanah Bumbu mencapai 315.815

Kabupaten Tanah Bumbu merupakan kabupaten pemekaran dari [[Kabupaten Kotabaru]] yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tanggal 8 April 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan [[Kabupaten Balangan]] di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan undang-undang tersebut, Kabupaten Tanah Bumbu selalu merayakan hari jadinya pada tanggal 8 April setiap tahunnya.

Nama historis yang pernah digunakan untuk menyebut daerah kabupaten ini adalah Tanah Koesan - 1879<ref>{{Web reference|url = http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1879.html?zoomview=1|title = Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879|author = Indonesian History Info|access-date = 2012-04-06|archive-date = 2012-05-05|archive-url = https://web.archive.org/web/20120505053147/http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1879.html?zoomview=1|dead-url = yes}}</ref>.

== Sejarah ==
Daerah Kabupaten Tanah Bumbu termasuk dalam kawasan Tanah Bumbu yang lebih luas atau wilayah Kalimantan Tenggara. Sejak dahulu kala wilayah tenggara pulau Kalimantan bukanlah daerah tidak bertuan karena daerah ini juga sudah dihuni oleh penduduk asli Kalimantan, menurut Hikayat Banjar penduduknya terdiri orang [[Satui, Tanah Bumbu|Satui]], orang [[Pulau Laut|Laut Pulau]], orang [[Pamukan]] (Dayak Samihim) dan [[orang Paser]] maupun orang-orang [[Dayak Bukit]] yang tinggal di [[pegunungan Meratus]]. Orang Pamukan dan orang Paser masing-masing memiliki pemerintahan kerajaan sendiri-sendiri.

Di daerah [[Cantung]] terdapat sebuah lesung batu (yoni) yang menunjukkan adanya pengaruh agama [[Hindu]] memasuki wilayah ini pada zaman dahulu kala. Sebelum terjadinya migrasi suku Bugis ke wilayah ini, seluruh wilayah tenggara Kalimantan di bawah koordinator [[Adji Tenggal]], penguasa Paser yang menjadi bawahan Sultan Banjar IV Mustain-Bilah/Marhum Panembahan. Pada abad ke-17 Sultan Banjar menguasai [[Kalimantan Tenggara]] untuk diperintah keturunannya yaitu [[Pangeran Dipati Tuha]] dengan nama [[Kerajaan Tanah Bumbu]] dengan wilayah awal mulanya meliputi daerah dari [[Tanjung Silat]] sampai [[Tanjung Aru, Tanjung Harapan, Paser|Tanjung Aru]] (batas wilayah Banjar dengan Paser).

=== Kronologi ===
==== [[1520]]-[[1546]] ====
* Menurut [[Hikayat Banjar]], ada beberapa daerah dari wilayah tenggara [[pulau Kalimantan]] yang takluk dan mengirimkan upeti kepada Raja Banjar Islam ke-1 Sultan Suriansyah (1520-1546) yang berkedudukan di [[Banjarmasin]], daerah-daerah tersebut yaitu Satui, [[Pulau Laut|Laut Pulau]], Pamukan dan Paser. Kesultanan Banjar menamakan kawasan pesisir dengan "Laut" yang terdiri atas '''Laut Pulau''' dan '''Laut Darat'''. Nama daerah-daerah yang turut mengirimkan upeti ditemukan dalam naskah '''Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin''' (disebut juga Hikayat Banjar 1):<ref name="hikayat banjar">[[Johannes Jacobus Ras]], [[Hikayat Banjar]] halaman 350, diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - [[Selangor]] Darul Ehsan, [[Malaysia]] [[1990]].</ref>

Pada masa itu daerah Kabupaten Tanah Bumbu termasuk ke dalam wilayah negeri Satui, salah satu negeri yang turut serta mengirim prajurit membantu Pangeran Samudera berperang melawan pamannya [[Pangeran Tumenggung]] (Raja [[Negara Daha]] terakhir).<br />
Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan: <br />
{{cquote|Maka [[Patih Masih]] menyuruh orang memberitahu ke Kintap, ke [[Satui]], ke [[Sawarangan]], ke [[Hasam-Hasam]], ke [[Laut Pulau]], ke [[Pamukan]], ke [[Paser]], ke [[Kutai]], ke [[Berau]], ke [[Karasikan]], dan memberitahu ke [[Tanah Biaju|Biaju]], ke [[Sebangau]], ke [[Mendawai]], ke [[Sampit]], ke [[Pembuang]], ke [[Kotawaringin]], ke [[Sukadana]], ke [[Lawai]], ke [[Sambas]]: [[Pangeran Samudera]] menjadi [[raja]] di [[Banjarmasih]]. Banyak tiada tersebut.<ref name="hikayat banjar"/>}}

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan: <br />
{{cquote|Maka [[Patih Balit]] itu kembali maka datang serta orang bantu itu. Maka orang yang takluk tatkala zaman [[Maharaja Suryanata]] sampai ke zaman [[Maharaja Sukarama]] itu, seperti [[negeri Sambas]] dan [[negeri Batang Lawai]] dan [[negeri Sukadana]] dan Kotawaringin dan Pembuang dan Sampit, Mendawai dan Sebangau dan [[Biaju Besar]] dan orang [[Biaju Kecil]] dan orang [[negeri Karasikan]] dan Kutai dan Berau dan Paser dan Pamukan dan orang Laut-Pulau dan Satui dan Hasam-Hasam dan Kintap dan Sawarangan dan [[Tambangan Laut]] dan orang [[Takisung]] dan [[Tabuniau]], sekaliannya itu sudah sama datang serta senjata serta persembahnya. Sama suka hatinya merajakan Pangeran Samudera itu. Sekaliannya orang itu berhimpun di [[Banjar]] dengan [[orang Banjarmasih]] itu, kira-kira orang empat laksa. Serta orang dagang itu, seperti [[orang Melayu]], [[orang Cina]], [[orang Bugis]], [[orang Mangkasar]], [[orang Jawa]] yang berdagang itu, sama lumpat menyerang itu. Banyak tiada tersebut.<ref name="hikayat banjar"/>}}

Daerah-daerah yang takluk pada masa [[Sultan Suryanullah]] - Sultan Banjarmasin ke-1 disebutkan dalam [[Hikayat Banjar]].<ref>{{id icon}} {{cite book|url=http://books.google.co.id/books?id=HiZvFZbm6sgC&lpg=PA88&dq=pulau%20banjar&pg=PA86#v=onepage&q=pulau%20banjar&f=false|title=Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia|last=Poesponegoro|first=Marwati Djoened|publisher=PT Balai Pustaka|year=1992|isbn=9794074098|pages=86|access-date=2016-10-25|archive-url=https://web.archive.org/web/20131111153613/http://books.google.co.id/books?id=HiZvFZbm6sgC&lpg=PA88&dq=pulau%20banjar&pg=PA86#v=onepage&q=pulau%20banjar&f=false|archive-date=2013-11-11|coauthors=Nugroho Notosusanto}}{{Dead link}}ISBN 978-979-407-409-1</ref><br />
{{cquote|''Sudah itu maka orang [[Sebangau Kuala, Pulang Pisau|Sebangau]], [[orang Mendawai]], [[orang Sampit]], orang [[Seruyan|Pembuang]], orang [[Kerajaan Kotawaringin|Kota Waringin]], orang [[Kerajaan Tanjungpura|Sukadana]], orang [[Kabupaten Melawi|Lawai]], [[orang Sambas]] sekaliannya itu dipersalin sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim barat sekaliannya negeri itu datang mahanjurkan upetinya, musim timur kembali itu. Dan orang [[Takisung, Tanah Laut|Takisung]], orang [[Kuala Tambangan, Takisung, Tanah Laut|Tambangan Laut]], orang [[Kintap, Tanah Laut|Kintap]], orang [[Asam Asam, Jorong, Tanah Laut|Asam-Asam]], orang [[Pulau Laut|Laut-Pulau]], orang [[Pamukan]], [[orang Paser]], [[orang Kutai]], [[orang Berau]], orang [[Suku Suluk|Karasikan]], sekaliannya itu dipersalin, sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim timur datang sekaliannya negeri itu mahanjurkan upetinya, musim barat kembali.''<ref name="hikayat banjar"/>}}

==== [[1595]]-[[1642]] ====
* Pada masa pemerintahan Raja Banjar Islam ke-4 Sultan Mustain Billah (Raja Maruhum Panambahan) mengutus menteri/duta besar '''Kiai Martasura''' ke negeri [[Makassar]] (Tallo-Gowa) untuk menjalin hubungan bilateral kedua negara pada masa I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud, Raja [[Tallo, Makassar|Tallo]] yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa 1638-1654, ia meminjam ("menyewa") negeri Paser dan beberapa daerah lainnya termasuk daerah hunian suku Banjar - negeri [[Satui, Tanah Bumbu|Satui]] kepada Raja Banjar Marhum Panembahan ([[1595]]-[[1642]]) sebagai tempat berdagang. Peristiwa tersebut sebelum adanya Perjanjian [[Bungaya, Gowa|Bungaya]], hal ini menunjukkan pengakuan Makassar (Tallo-Gowa) mengenai kekuasaan Kesultanan Banjar terhadap daerah-daerah di wilayah sepanjang tenggara dan timur pulau Kalimantan. Pada masa itu Sultan Makassar terfokus untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di kepulauan [[Sunda Kecil]]. Namun setelah [[Perjanjian Bungaya]] (1667), Kesultanan Gowa dilarang oleh VOC-Belanda berdagang ke wilayah timur dan utara pulau Kalimantan.
Naskah '''Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin''' (disebut juga Hikayat Banjar 1) menyebutkan:
{{cquote|''Kemudian daripada itu tatkala Kiai Martasura ke Mangkasar, zaman Karaing Patigaloang itu, ia menyuruh pada Marhum Panembahan itu meminjam Pasir itu akan tempatnya berdagang serta bersumpah: "Barang siapa anak cucuku hendak aniaya lawan negeri Banjar mudah-mudahan dibinasakan Allah itu." Maka dipinjamkan oleh Marhum Panembahan. Itulah mulanya Pasir - serta diberi desa namanya [[Distrik Satui|Satui]] dan [[Asam Asam, Jorong, Tanah Laut|Hasam-Hasam]] dan [[Kintap, Tanah Laut|Kintap]], dan [[Swarangan, Jorong, Tanah Laut|Sawarangan]] itu, Banacala, Balang Pasir dan [[Kesultanan Kutai|Kutai]] dan [[Kesultanan Berau|Berau]] serta [[Kesultanan Sulu|Karasikan]] - itu tiada mahanjurkan hupati ke Martapura itu.''<ref name="hikayat banjar"/>}}

==== [[1660]]-[[1700]] ====
* Orang [[Pamukan]] atau Suku [[Dayak Samihim]] dahulu telah memiliki kerajaan sendiri yaitu [[Kerajaan Pamukan]] yang telah dihancurkan oleh suatu serangan musuh dari luar dengan bukti sisa-sisa pemukiman mereka terdapat di [[Tanjung Kersik Itam]]. Setelah kejadian tersebut, orang Pamukan/Dayak Samihim meminta kepada Sultan Banjar untuk mengamankan wilayah itu dengan mendirikan pemerintahan (kerajaan) dan untuk mengantisipasi banyaknya pendatang dari luar memasuki daerah tersebut maka [[Pangeran Dipati Tuha I|Pangeran Dipati Tuha]] putera [[Sultan Saidullah]] ditunjuk sebagai raja membawahi wilayah antara [[Tanjung Silat]] sampai [[Tanjung Aru]] yang dinamakan [[Kerajaan Tanah Bumbu]] dengan pusat pemerintahan di sungai Bumbu termasuk dalam Daerah Aliran [[Sungai Sampanahan]]. Pangeran Dipati Tuha kemudian digantikan puteranya [[Pangeran Mangu]] (Mangun Kesuma) sebagai Raja Tanah Bumbu berikutnya dan seorang putera lainnya [[Pangeran Citra]] (Citra Yuda) menjadi sultan negeri Kelua. Pangeran Mangu (1700-1740) kemudian digantikan putrinya, yaitu Ratu Mas. Ratu Mas (1740-1780) menikahi seorang pedagang dari Gowa bernama Daeng Malewa yang bergelar Pangeran Dipati; pasangan ini beranak [[Ratu Intan]] I dan Pangeran Layah, sedangkan dari selir Daeng Malewa berputra Pangeran Prabu<ref>Indonesian History Info. [https://web.archive.org/web/20120505053147/http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1879.html?zoomview=1 "Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879"]. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-05. Diakses tanggal 2012-04-06.</ref> [[1780]], Kerajaan Tanah Bumbu dipecah menjadi wilayah selatan di bawah pemerintahan Ratu Intan I (keturunan Pangeran Dipati Tuha) yang dikenal sebagai Ratu Cantung dan Batulicin dan wilayah utara yang berpusat di Sampanahan di bawah pemerintahan Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh. Ratu Intan I menikahi Sultan Anom dari Paser tetapi perkawinan ini tidak menghasilkan keturunan. Sedangkan Sultan Anom dengan selirnya memiliki keturunan yaitu Pangeran Muhammad, Andin Kedot, Andin Girok dan Andin Proah. Pangeran Layah menjadi penguasa Buntar Laut, ia memiliki kerurunan Gusti Cita dan Gusti Tahora.

==== [[1733]] ====
* [[Puanna Dekke'|Puana Dekke]] meminjam tanah dekat muara sungai Kusan kepada Sultan Tahlilullah yang dinamakan daerah [[Kota Pagatan, Kusan Hilir, Tanah Bumbu|Pagatan]]. Dan pada tahun 1750 suku Bugis meminjam tanah kepada [[Kesultanan Banjar|Sultan Banjar]] untuk mendirikan koloni di [[Tanjung Aru, Tanjung Harapan, Paser|Tanjung Aru]].<ref>[http://eprints.lib.ui.ac.id/12976/1/82338-T6811-Politik%20dan-TOC.pdf Situs web Universitas Indonesia]</ref> Tahun [[1775]], [[La Pangewa]] (Kapitan Laut Pulo), selaku kapitan orang [[Orang Bugis|Bugis]]-[[:id:Pagatan|Pagatan]] menggantikan [[Puanna Dekke'|Puana Dekke]] dan kemudian ia juga direstui oleh Sultan [[Tahmidullah II]] sebagai raja pertama [[Kerajaan Pagatan]], karena jasa-jasanya menggempur Pangeran Amir - Raja Kusan I. Pangeran Amir atau Sultan Amir menyingkir ke [[Kuala Biaju]] untuk meminta bantuan suku Dayak Dusun dan Bakumpai di [[Tanah Dusun]]. Pada tahun [[1785]], [[Pangeran Amir]] anak Sultan Kuning dibantu [[Arung Tarawe]] menyerang Tabanio dengan pasukan 3000 orang Bugis-Paser berkekuatan 60 buah perahu untuk menuntut [[tahta]] [[Kesultanan Banjar]] dari [[Tahmidullah II]]. Pada tanggal [[14 Mei]] [[1787]], [[Pangeran Amir]] (kakeknya [[Pangeran Antasari]]) ditangkap Kompeni Belanda, kemudian diasingkan ke [[Srilangka]].

==== [[1787]] ====
* Pada tanggal [[13 Agustus]] [[1787]], Sultan [[Tahmidullah II dari Banjar]] menyerahkan kedaulatan [[Kesultanan Banjar]] kepada [[VOC]] menjadi daerah protektorat dengan Akta Penyerahan di depan Residen Walbeck, setelah VOC berhasil menyingkirkan Pangeran Amir, rivalnya dalam perebutan tahta. Sebagian besar [[Kalimantan]] menjadi [[properti]] [[perusahaan]] VOC.

==== [[1788]] ====
* [[Sultan Anom Alamsyah|Sultan Dipati Anom Alamsyah]] menjadi [[Sultan Pasir]] III sampai tahun [[1799]]. Sultan ini menikahi [[Ratu Intan I]], yaitu Ratu dari [[Tjangtoeng]] dan [[Batoe Litjin]].

==== [[1789]] ====
* <nowiki/>Kedaulatan atas daerah Pasir dan Pulau Laut diserahkan VOC kembali kepada Sultan Banjar, [[Tahmidullah II]].

==== [[1826]] ====
* Pada tanggal [[4 Mei]] [[1826]] (26 Ramadhan 1241 H), Sultan Banjar (Sultan Adam al-Watsiq Billah), menyerahkan wilayah tenggara dan timur Kalimantan beserta daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

==== [[1844]] ====
* Kasus [[Sebuli]] – Batulicin yaitu perompakan yang menyebabkan pertikaian Daeng Manggading yang dibantu Raja Pagatan dan Raja Sabamban dengan Aji Pati (Raja Bangkalaan) yang dibantu Pangeran Meraja Nata yang bermukim di Batulicin, mengakibatkan rumah-rumah orang Bugis di Batulicin dibakar.<ref>Subiyakto (8 Maret 2008). [http://subiyakto.wordpress.com/2008/03/08/perompakan-sebuah-realitas-historis-abad-xix-di-kalimantan-selatan/ "Perompakan: Sebuah Realitas Historis Abad XIX di Kalimantan Selatan"].</ref>
* Pada tahun ini, distrik-distrik dalam onderafdeeling van Tanah Boemboe yaitu Pagatan, Kusan, Batulicin, Cantung dengan Buntar Laut, Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul dan Cengal. Pada waktu itu Pulau Laut masih di bawah pemerintah pusat Kesultanan Banjar.

==== [[1845]] ====
* Batulicin dan Pulau Laut berada di bawah pemerintah Kusan.<ref>{{cite book|pages=|url=http://books.google.co.id/books?id=1PBAAAAAcAAJ&dq=tanah-koessan&pg=PA357#v=onepage&q&f=false|title=Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde|volume=1}}</ref> Penguasa Kusan kemudian pindah ke pulau Laut, dan akhirnya divisi Kusan digabung dengan Pagatan. Sabamban dibentuk belakangan. Wilayah kabupaten Tanah Bumbu hari ini merupakan gabungan wilayah bekas distrik ([[swapraja]]) pada masa kolonial Hindia Belanda tersebut, yaitu [[Batoe Litjin]], [[Kerajaan Kusan|Koessan]], [[Kerajaan Pagatan|Pagatan]] dan [[Sabamban]], serta [[Distrik Satui]] (tahun 1889 Satui masih merupakan bagian dari ''[[Afdeeling Tanah Laut]]''). Jadi Kerajaan Pagatan hanya salah satu dari banyak kerajaan yang ada di Tanah Bumbu maupun Kalimantan Tenggara.<ref>{{Web|title = Tanah Boemboe (atlas)|url = http://www.indonesianhistory.info/places/tanah-boemboe.html|author = Indonesian History Info (situs)}}</ref>

==== [[1849]] ====
* Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan ''Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie'', pada 27 Agustus 1849, No. 8<ref>{{Web|title = Staatsblad van Nederlandisch Indië, s.n., 1849|url = http://books.google.co.id/books?id=KJFBAAAAYAAJ&dq=Verdeeling%20van%20het%20Eiland%20Borneo%20in%20tteee%20%20afdeelingen%2C%20onder%20de%20benaming%20van%20Wester%20afdeeling%20en%20Zuid%20en%20Ooster%20afdeeling.&pg=PA55-IA22#v=onepage&q=Verdeeling%20van%20het%20Eiland%20Borneo%20in%20tteee%20%20afdeelingen,%20onder%20de%20benaming%20van%20Wester%20afdeeling%20en%20Zuid%20en%20Ooster%20afdeeling.&f=false|author = Google Book}}</ref>

== Geografi ==
Secara geografis Kabupaten Tanah Bumbu terletak di antara 2°52’ – 3°47’ Lintang Selatan dan 115°15’ – 116°04’ Bujur Timur. Kabupaten Tanah Bumbu adalah salah satu kabupaten dari 13(tiga belas) kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang terletak persis di ujung tenggara Pulau Kalimantan. Tanah Bumbu memiliki luas wilayah sebesar 5.066,96 km2 (506.696 ha) atau 13,50 persen dari total luas Provinsi Kalimantan Selatan.<ref>[http://tanahbumbukab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid=6 Pemkab Tanah Bumbu] Diakses: 14 Oktober 2009.</ref>

=== Batas Wilayah ===
Batas wilayah Kabupaten Tanah Bumbu adalah:{{batas_USBT
|utara   = [[Kabupaten Kotabaru]] dan [[Kabupaten Hulu Sungai Tengah]]
|selatan = [[Laut Jawa]]
|barat   = [[Kabupaten Tanah Laut]] dan [[Kabupaten Banjar]] 
|timur   = [[Kabupaten Kotabaru]] 
}}

== Pemerintahan ==
=== Daftar Bupati ===
{{utama|Senarai Bupati Tanah Bumbu}}
{| class="wikitable" style="text-align: center;"
!No.
!Foto
!Nama
!Awal Menjabat
!Akhir Menjabat
!Wakil Bupati
!Keterangan
!Ref.
|-
| rowspan="2" |1
| rowspan="2" |
| rowspan="2" |Dr. H. M. [[Zairullah Azhar]], M.Sc.
|2003
|2005
|
|Penjabat bupati
|
|-
|2005
|2010
|H. Abdul Hakim G.
|Bupati definitif
|
|-
|2
|
|[[Mardani H. Maming]]
|2010
|2015
|Drs. H. [[Difriadi Darjat]]
|
|
|-
|3
|
|Drs. Wahyuddin, M.A.P.
|21 September 2015
|17 Februari 2016
|
|Penjabat bupati
|<ref>{{cite web|url=http://mckalsel.id/?p=9010|title=Wahyudin Dilantik Sebagai Penjabat Bupati Tanah Bumbu|date=21 September 2015|publisher=mckalsel.id|accessdate=26 November 2016}}{{Dead link}}</ref>
|-
|
|
|Mardani H. Maming
|17 Februari 2016
|3 Juli 2018
|H. Sudian Noor
|
|<ref>{{cite web|url=http://www.metro7.co.id/2016/03/gubernur-para-bupati-baru-harus-penuhi.html|title=Gubernur : “Para Bupati Baru Harus Penuhi Janjinya, ” Pasangan Bupati Tanah Bumbu Dilantik|publisher=metro7.co.id|accessdate=26 November 2016}}{{Pautan putus}}</ref><ref>{{cite web|url=https://www.merdeka.com/politik/daftar-caleg-mardani-maming-resmi-mundur-dari-jabatan-bupati-tanah-bumbu.html|title=Daftar caleg, Mardani Maming resmi mundur dari jabatan Bupati Tanah Bumbu|publisher=merdeka.com|accessdate=13 Agustus 2018}}</ref>
|-
| rowspan="2" |4
| rowspan="2" |
| rowspan="2" |H. Sudian Noor
|3 Juli 2018
|8 Oktober 2018
|
|Pelaksana tugas (plt.) bupati
|
|-
|8 Oktober 2018
|''sekarang''
|Ready Kambo
|Bupati definitif
|<ref>{{cite web|url=https://redkal.com/sudian-noor-resmi-menjabat-bupati-tanbu/|title=Sudian Noor Resmi Menjabat Bupati Tanbu|date=8 Oktober 2018|publisher=redkal.com|accessdate=24 April 2019}}</ref><ref>{{cite web|url=https://news.okezone.com/read/2019/03/18/340/2031608/ready-kambo-dilantik-jadi-wabup-tanah-bumbu-gantikan-sudian-noor|title=Ready Kambo Dilantik Jadi Wabup Tanah Bumbu Gantikan Sudian Noor|date=18 Maret 2019|publisher=okezone.com|accessdate=24 April 2019}}</ref>
|}

=== Dewan Perwakilan ===
{{utama|Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tanah Bumbu}}
{| class="wikitable"
! rowspan="2" |Partai Politik
! colspan="2" |Jumlah Kursi dalam Periode
|-
!2014-2019<ref>[https://www.puskapol.ui.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/KALSEL.jpg Perolehan Kursi DPRD Tanah Bumbu 2014-2019]</ref>
!2019-2024<ref>[https://www.detikbanua.co.id/advetorial/35-anggota-dprd-kabupaten-tanah-bumbu-periode-2019-2024-dilantik-ini-daftar-namanya/ Perolehan Kursi DPRD Tanah Bumbu 2019-2024]</ref>
|-
|[[Fail:Pkbdiy.jpg|26x26px]] [[Partai Kebangkitan Bangsa|PKB]]
| align="center" |5
| align="right" |{{steady}} 5
|-
|[[Fail:Gerindra.jpg|25x25px]] [[Parti Gerakan Indonesia Raya|Gerindra]]
| align="center" |5
| align="right" |{{increase}} 6
|-
|[[Fail:Logo_PDIP.png|21x21px]] [[Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan|PDI Perjuangan]]
| align="center" |10
| align="right" |{{increase}} 13
|-
|[[Fail:GOLKAR_logo.png|21x21px]] [[Partai Golongan Karya|Golkar]]
| align="center" |3
| align="right" |{{increase}} 6
|-
|[[Fail:Partai_NasDem.svg|20x20px]] [[Partai NasDem|NasDem]]
| align="center" |3
| align="right" |{{decrease}} 1
|-
|[[Fail:PKS_logo_2020.png|28x28px]] [[Partai Keadilan Sejahtera|PKS]]
| align="center" |1
| align="right" |{{steady}} 1
|-
|[[Fail:PPP logo 2021.png|20x20px]] [[Partai Persatuan Pembangunan|PPP]]
| align="center" |2
| align="right" |{{decrease}} 1
|-
|[[Fail:Logo_Partai_Amanat_Nasional.jpg|28x28px]] [[Partai Amanat Nasional|PAN]]
| align="center" |2
| align="right" |{{steady}} 2
|-
|[[Fail:HANURA.jpg|20x20px]] [[:id:Partai_Hanura|Hanura]]
| align="center" |3
| align="right" |{{decrease}} 0
|-
|[[Fail:Logo_of_the_Democratic_Party_(Indonesia).svg|20x20px]] [[Partai Demokrat|Demokrat]]
| align="center" |1
| align="right" |{{decrease}} 0
|-
!Jumlah Anggota
!35
!{{steady}} 35
|-
!Jumlah Partai
!10
!{{decrease}} 8
|}

=== Kecamatan ===
{{utama|Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Tanah Bumbu}}
Saat ini Kabupaten Tanah Bumbu memiliki 10 kecamatan, yaitu:
# [[Angsana, Tanah Bumbu|Angsana]]
# [[Batulicin, Tanah Bumbu|Batulicin]]
# [[Karang Bintang, Tanah Bumbu|Karang Bintang]]
# [[Kuranji, Tanah Bumbu|Kuranji]]
# [[Kusan Hilir, Tanah Bumbu|Kusan Hilir]]
# [[Kusan Hulu, Tanah Bumbu|Kusan Hulu]]
# [[Kusan Tengah, Tanah Bumbu|Kusan Tengah]]
# [[Mentewe, Tanah Bumbu|Mentewe]]
# [[Satui, Tanah Bumbu|Satui]]
# [[Simpang Empat, Tanah Bumbu|Simpang Empat]]
# [[Sungai Loban, Tanah Bumbu|Sungai Loban]]
# [[Teluk Kepayang, Tanah Bumbu|Teluk Kepayang]]

== Ekonomi ==
Tanah Bumbu memiliki beberapa industri dan perusahaan tambang yang cukup besar, antara lain [[PT. Arutmin Indonesia Tambang Batulicin]] dan [[PT. Arutmin Indonesia Tambang Satui]] yang berada di bawah manajemen [[PT. Arutmin Indonesia]] yang sahamnya sebagian dimiliki [[Bakrie & Brothers|Bakrie]] melalui [[Bumi Resources]]. Kemudian perusahaan tambang biji besi antara lain; [[PT. Yiwan Mining]], [[PT. Meratus Jaya Iron Steel]], dan yg baru diresmikan pada awal Juli 2012 yakni [[PT. Batulicin Steel]].

== Seni Budaya ==
[[Fail:Maket Balai Bini.JPG|thumb|200x200px|Rumah Adat Tanah Bumbu ([[:id:Rumah_Balai_Bini|Rumah Balai Bini]]).]]

=== Suku bangsa ===
Suku bangsa yang ada di daerah ini antara lain:
# [[Suku Banjar]]
# [[Dayak|Suku Dayak]] [[Bukit]]
# [[Suku Bugis]]
# [[Mandar|Suku Mandar]]
# [[Suku Jawa]]
# [[Suku Bali]]
# [[Suku Sunda]]
# [[Tionghoa-Indonesia|Suku Tionghoa-Indonesia]]
# [[Suku Batak]]
# [[Sasak|Suku Sasak]]

=== Lagu Daerah ===
Lagu daerah dari kabupaten ini antara lain:
* [[Tanah Bumbu (lagu)|Tanah Bumbu]]
* [[Mahadang Ading]]
* [[Baikat Janji]]

=== Pariwisata ===
Berikut adalah beberapa [[:id:Daftar_tempat_wisata_di_Kalimantan_Selatan#Tanah_Bumbu|tempat Wisata di Tanah Bumbu]]

==== Makam Bersejarah ====
* Makam Syekh Haji Muhammad Arsyad
* Makam Pangeran Agung alias Adji Pati

==== Pantai Eksotis ====
* [[:id:Pantai_Angsana|Pantai Angsana]]
* [[:id:Pantai_Pagatan|Pantai Pagatan]]

==== Festival ====
* [[:id:Mappanretasi|Mappanretasi]]

== Infrastruktur ==
=== Pelabuhan ===
Di wilayah Tanah Bumbu terdapat puluhan pelabuhan khusus untuk keperluan pengapalan batubara, biji besi dan sawit. Selain itu terdapat pelabuhan umum milik [[PT. Pelabuhan Indonesia]] (Pelindo) III Cabang [[Kotabaru]], serta pelabuhan penyeberangan milik [[PT. ASDP]].

=== Rumah Sakit ===
* Rumah sakit Umum Daerah dr. H. Andi Abdurrahman Noor
* Rumah Sakit Marina Permata

=== Transportasi ===
Akses transportasi dari dan ke Kabupaten Tanah Bumbu saat ini bisa dikatakan cukup lengkap. Jalur transportasi tersebut berpusat di Batulicin sebagai kota terbesar di Kabupaten Tanah Bumbu meliputi akses jalur darat, jalur laut, dan jalur udara.

A. Jalur Darat Tersedia berbagai macam angkutan darat dari dan menuju Batulicin saat ini diantaranya angkutan konvensional seperti Bus umum dan lain sebagainya.
Perjalanan dari Banjarmasin ke Batulicin menggunakan jalur darat bisa di tempuh 5-6 jam.

B. Jalur Laut Batulicin juga memiliki beberapa pelabuhan besar untuk aktivitas bongkar muat barang dan penumpang diantaranya pelabuhan Samudera dan pelabuhan ASDP Batulicin. Pelabuhan-pelabuhan tersebut secara rutin melayani penumpang dan bongkar muat barang dari berbagai daerah di Indonesia.

C. Jalur Udara
Kabupaten Tanah Bumbu juga memiliki bandara perintis yang cukup besar bernama Bandara Bersujud yang terletak di Batulicin. Bandara tersebut secara rutin telah melayani penumpang. Saat ini telah tersedia rute penerbangan dari dan ke Batulicin yang dilayani oleh maskapai Wings Air (Lion Air Group) dengan rute sebagai berikut: Banjarmasin - Batulicin - Makassar (PP).

Rencananya dalam waktu dekat ini maskapai Nam Air dari Sriwijaya Air Group juga akan terbang dari dan ke Batulicin.

== Galeri ==
<gallery>
Fail:Pagatan Beach Batulicin - panoramio.jpg|[[Pantai Pagatan]]
Fail:Angsana Velavaru (8686172412).jpg|[[Pantai Angsana]]
Fail:Petik Laut Sendang Biru Malang.jpg|[[Mappanretasi]]
</gallery>

== Referensi ==
{{reflist|2}}

== Pranala luar ==
* {{id}} [http://www.tanahbumbukab.go.id/ Situs web rasmi pemerintah kabupaten Tanah Bumbu]
* {{id}} [http://www.kapetbatulicin.com/index.php?option=com_content&view=article&id=57&Itemid=63 Kapet Batulicin]
{{Kabupaten Tanah Bumbu}}
{{Kalimantan Selatan}}
{{Authority control}}

[[Kategori:Kabupaten Tanah Bumbu| ]]
[[Kategori:Kabupaten di Kalimantan Selatan|Tanah Bumbu]]
[[Kategori:Kabupaten di Indonesia|Tanah Bumbu]]