Difference between revisions 5029082 and 5029088 on mswiki

{{Infobox settlement
<!--See Template:Infobox Settlement for additional fields that may be available-->
<!--See the Table at Infobox Settlement for all fields and descriptions of usage-->
(contracted; show full), [[Barru|Kabupaten Barru]] di selatan dan Selat Makasar di barat.<ref>{{Cite book|url=http://rumahbelajar.id/Media/Dokumen/5cff5f5fb646044330d686d0/6f68aa623c26bbbe878d094b06e1e48c.pdf|title=Jaringan Maritim Indonesia: Sejarah Toponim Kota Pantai di Sulawesi|last=Kaunang, I.R.B, Haliadi, dan Rabani, L.O.|first=|date=2016|publisher=Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan|isbn=978-602-1289-43-3|location=Jakarta|pages=53-54|url-status=live}}</ref>
{{MABBIM}}
== Sejarah ==
[[Fail:COLLECTIE TROPENMUSEUM Straatbeeld te Parepare Celebes TMnr 60041784.jpg|thumb|Jalan di Parepare 1900-1940]]
Di awal perkembangannya, [[Bukitan|perbukitan]] yang sekarang ini disebut Kota Parepare, dahulunya adalah merupakan semak-semak belukar yang diselang-selingi oleh lubang-lubang tanah yang agak miring sebagai tempat yang pada keseluruhannya tumbuh secara liar tidak teratur, mulai dari utara (Cappa Ujung) hingga ke jurusan selatan kota. Kemudian dengan melalui proses perkembangan sejarah sedemikian rupa dataran itu dinamakan Kota Parepare.

Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah tersendiri pada tepian pantai karena memiliki hobi memancing. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad XV yakni Kerajaan Bacukiki.

Kata Parepare ditenggarai sebagian orang berasal dari kisah Raja Gowa, dalam satu kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, [[:id:Manrigau_Dg._Bonto_Karaeng_Tunipallangga|Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tunipallangga]] (1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang. Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah pada hamparan ini dan spontan menyebut “Bajiki Ni Pare” artinya “(Pelabuhan di kawasan ini) di buat dengan baik”. Parepare ramai dikunjungi termasuk [[Orang Melayu Indonesia|orang-orang Melayu]] yang datang berdagang ke kawasan Suppa.

Kata Parepare punya arti tersendiri dalam [[bahasa Bugis]], kata Parepare bermakna " Kain Penghias " yg digunakan diacara semisal pernikahan, hal ini dapat kita lihat dalam buku sastra lontara La Galigo yang disusun oleh Arung Pancana Toa Naskah NBG 188 yang terdiri dari 12 jilid yang jumlah halamannya 2851, kata Parepare terdapat dibeberapa tempat di antaranya pada jilid 2 hal [62] baris no. 30 yang berbunyi " pura makkenna linro langkana PAREPARE" (KAIN PENGHIAS depan istana sudah dipasang).

Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Di sinilah Belanda bermarkas untuk melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulawesi Selatan. Hal ini yang berpusat di Parepare untuk wilayah Ajatappareng.
[[Fail:Habibie-Ainun.jpg|kanan|thumb|289x289px|[[Baharuddin Jusuf Habibie|BJ Habibie]], berkelahiran Parepare yangg menjadi Presiden ke-3 [[Indonesia|Republik Indonesia]] bersama dengan Ainun (Isteri Beliau).]]
Pada zaman Hindia Belanda, di Kota Parepare, berkedudukan seorang Asisten Residen dan seorang ''Controlur'' atau ''Gezag Hebber'' sebagai Pimpinan Pemerintah (Hindia Belanda) dengan status wilayah pemerintah yang dinamakan “Afdeling Parepare” yang meliputi, Onder Afdeling Barru, Onder Afdeling Sidenreng Rappang, Onder Afdeling Enrekang, Onder Afdeling Pinrang dan Onder Afdeling Parepare.

Pada setiap wilayah/Onder Afdeling berkedudukan Controlur atau Gezag Hebber. Disamping adanya aparat pemerintah Hindia Belanda tersebut, struktur Pemerintahan Hindia Belanda ini dibantu pula oleh aparat pemerintah raja-raja [[Orang Bugis|bugis]], yaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang, Arung Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di [[Pinrang]], sedangkan di Parepare berkedudukan Arung Mallusetasi.

Struktur pemerintahan ini, berjalan hingga pecahnya Perang Dunia II yaitu pada saat terhapusnya Pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1942. Pada zaman kemerdekaan Indonesia tahun 1945, struktur pemerintahan disesuaikan dengan undang-undang no. 1 tahun 1945 (Komite Nasional Indonesia). Dan selanjutnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1948, di mana struktur pemerintahannya juga mengalami perubahan, yaitu di daerah hanya ada Kepala Daerah atau Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) dan tidak ada lagi semacam Asisten Residen atau Ken Karikan.

Pada waktu status Parepare tetap menjadi Afdeling yang wilayahnya tetap meliputi 5 Daerah seperti yang disebutkan sebelumnya. Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembagian Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, maka ke empat Onder Afdeling tersebut menjadi Kabupaten Tingkat II, yaitu masing-masing Kabupaten Tingkat II Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang, sedangkan Parepare sendiri berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare. Kemudian pada tahun 1963 istilah Kota Praja diganti menjadi Kotamadya dan setelah keluarnya UU No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, maka status Kotamadya berganti menjadi “KOTA” sampai sekarang ini.

Didasarkan pada tanggal pelantikan dan pengambilan sumpah Wali Kotamadya Pertama H. Andi Mannaungi pada tanggal 17 Februari 1960, maka dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun 1970 ditetapkan hari kelahiran Kotamadya Parepare tanggal 17 Februari 1960.<ref>{{cite web|url=http://www.pareparekota.go.id/kominfo/profil-kota/sejarah-kota-parepare|title=Sejarah Kota Parepare|date=24 Januari 2014|publisher=MC Diskominfo Pemkot Parepare|accessdate=9 Oktober 2014}}</ref>

== Geografis ==
Bandar Parepare terletak di sebuah teluk yang menghadap ke [[Selat Makasar|Selat MakasPada awal pengembangannya, bukit-bukit yang sekarang disebut Bandar Parepare, dahulunya merupakan kawasan hutan tebal yang berlubang-lubang di tanah yang sedikit landai sebagai tempat yang semuanya tumbuh liar tidak teratur, dari utara (Cappa Ujung) ke menghala ke selatan bandar. Kemudian melalui proses pengembangan sejarah sedemikian rupa sehingga dataran itu disebut Bandar Parepare.

Lontara Kerajaan Suppa mengatakan, sekitar abad ke-14, seorang putera Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan untuk mendirikan wilayahnya sendiri di pantai kerana beliau mempunyai hobi memancing. Daerah ini kemudian dikenali sebagai kerajaan Soreang, kemudian kerajaan lain didirikan sekitar abad ke-15, iaitu Kerajaan Bacukiki.

Perkataan Parepare diperkenalkan oleh beberapa orang berasal dari kisah Raja Gowa, semasa kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tunipallangga (1547-1566) berjalan-jalan dari Kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang. Sebagai raja yang terkenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan indah dari hamparan ini dan secara spontan disebut "Bajiki Ni Pare" yang bermaksud "(Pelabuhan di daerah ini) dibuat dengan baik". Parepare dikunjungi oleh banyak orang, termasuk [[Orang Melayu Indonesia|orang Melayu]] yang datang berniaga di kawasan Suppa.

Perkataan Parepare mempunyai makna tersendiri dalam [[bahasa Bugis]], iaitu perkataan Parepare bermaksud "kain hiasan" yang digunakan dalam upacara seperti perkahwinan, ini dapat dilihat dalam buku sastera La Galigo yang ditulis oleh Arung Pancana Toa Manuscript NBG 188 yang terdiri daripada 12 jilid dengan sejumlah halaman 2851, kata Parepare ada beberapa tempat termasuk dalam halaman 2 jilid [62] baris no. 30 yang berbunyi "pura makkenna linro langkana PAREPARE" (KAIN HIASAN depan istana telah dipasang).

Melihat kedudukannya yang strategik sebagai pelabuhan yang dilindungi oleh tanjung di depannya, dan memang sudah penuh sesak dengan orang ramai, Belanda pertama kali merebut tempat ini dan kemudian menjadikannya sebuah kota penting di bahagian tengah Sulawesi Selatan. Di sinilah Belanda beribu pejabat untuk melebarkan sayapnya dan menembusi seluruh dataran timur dan utara Sulawesi Selatan. Ia berpusat di Parepare untuk wilayah Ajatappareng.

Semasa era [[Hindia Belanda]], di Parepare, terdapat seorang Pembantu Residen dan seorang ''Controlur'' atau ''Gezag Hebber'' sebagai Pemimpin Pemerintah (Hindia Belanda) dengan status wilayah pemerintah yang disebut "Afdeling Parepare" yang termasuk, Onder Afdeling Barru, Onder Afdeling Sidenreng Rappang, Onder Afdeling Enrekang, Onder Afdeling Pinrang dan Onder Afdeling Parepare.

Di setiap wilayah/Onder Afdeling ditempatkan ''Controlur'' atau ''Gezag Hebber''. Selain menjadi alat pemerintah Hindia Belanda, struktur Pemerintahan Hindia Belanda juga dibantu oleh alat pemerintah raja-raja Bugis, iaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang, Arung Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di [[Pinrang]], sementara di Parepare tempat kediamannya ialah Arung Mallusetasi.

Struktur pemerintahan ini, berlangsung hingga tercetusnya [[Perang Dunia Kedua|Perang Dunia II]], ketika Pemerintah Hindia Belanda dihapuskan sekitar tahun 1942. Pada era [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|kemerdekaan Indonesia]] pada tahun 1945, struktur pemerintahan disesuaikan dengan undang-undang No. 1 tahun 1945 (Jawatankuasa Nasional Indonesia). Dan lebih jauh lagi Undang-Undang Nombor 2 tahun 1948, iaitu struktur pemerintahan juga mengalami perubahan, apabila di setiap daerah hanya ada Kepala Daerah atau Ketua Pemerintah Negara (KPN) dan tidak ada lagi Penolong Residen atau Ken Karikan.

Pada masa itu, status Parepare tetap sebagai Afdeling yang wilayahnya masih meliputi 5 wilayah seperti yang disebutkan sebelumnya. Dengan terbitnya Undang-Undang Nombor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembahagian wilayah Tingkat II di Wilayah Sulawesi Selatan, keempat-empat Afdeling Onder menjadi Kabupaten Tingkat II, iaitu Kabupaten Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang, sementara Parepare sendiri memiliki status Kota Praja Tingkat II. Kemudian pada tahun 1963, istilah Kota Praja ditukar menjadi Kotamadya (Perbandaran) dan setelah dikeluarkannya Undang-Undang No. 29 Tahun 1959 mengenai Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, status Perbandaran diubah menjadi "Bandar" hingga sekarang.

Berdasarkan tarikh pelantikan dan sumpah sumpah Walikota Pertama H. ​​Andi Mannaungi pada 17 Februari 1960, dengan Keputusan Majlis Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 pada tahun 1970, hari kelahiran Kotamadya Parepare ditentukan juga pada 17 Februari 1960.<ref>{{cite web|url=http://www.pareparekota.go.id/kominfo/profil-kota/sejarah-kota-parepare|title=Sejarah Kota Parepare|date=24 Januari 2014|publisher=MC Diskominfo Pemkot Parepare|accessdate=9 Oktober 2014}}</ref>[[Fail:Habibie-Ainun.jpg|kanan|thumb|289x289px|[[Baharuddin Jusuf Habibie|BJ Habibie]], berkelahiran Parepare yangg menjadi Presiden ke-3 [[Indonesia|Republik Indonesia]] bersama dengan Ainun (Isteri Beliau).]]
== Geografi ==
Bandar Parepare terletak di sebuah teluk yang menghadap ke [[Selat Makasar]]. Di bahagian utara berbatasan dengan [[Pinrang|Kabupaten Pinrang]], di sebelah timur berbatasan dengan [[Sidenreng Rappang|Kabupaten Sidenreng Rappang]] dan di bahagian selatan berbatasan dengan [[Barru|Kabupaten Barru]]. Meskipun terletak di tepi laut tetapi sebahagian besar wilayahnya berbukit-bukit.

=== Iklim ===
(contracted; show full)
* {{id}} [http://www.pareparekota.go.id| Laman rssmi Pemerintah Kota Parepare]
*{{id}} [http://www.pareparekota.com/ Laman web berita Kota Parepare]
{{Geographic location|Centre=Parepare|North=[[Kabupaten Pinrang]]|Northeast=|East=[[Kabupaten Sidenreng Rappang]]|Southeast=|South=[[Kabupaten Barru]]|Southwest=|West=[[Selat Makasar]]|Northwest=}}{{Kota Parepare}}
{{Sulawesi Selatan}}
[[Kategori:Kota di Sulawesi Selatan|Parepare]]
[[Kategori:Kota di Indonesia|Parepare]]
[[Kategori:Kota Parepare| ]]