Difference between revisions 400855 and 400862 on suwiki{{Infobox Former Country |conventional_long_name = Kearajaan Sunda |common_name = Kearajaan Sunda |continent = moved from Category:Asia to Southeast Asia |region = Asia Tenggara |country = Indonesia |religion = [[Hindu]], [[Buddha]], [[Sunda Wiwitan]] |p1 = Tarumanagara |s1 = Kesultanan Banten |flag_s1 = Flag of the Sultanate of Banten.svg |s2 = Kesultanan Demak |year_start = 932 |year_end = 1579 |date_start = |date_end = |event_start = [[Prasasti Kebonkopi II]] |event_end = invansi [[Kesultanan Banten|Banten]] |image_coat = |symbol_type = |image_map = Sunda Kingdom_id.svg |image_map_caption = Wilayah Kearajaan Sunda |capital = Berpindah-pindah antara [[Pajajaran]], dan [[Kawali]] (Galuh). Pernah juga di Saunggalah (Kuningan) |common_languages = [[Bahasa Sunda]], [[Bahasa Jawa]], [[Bahasa Melayu Kuno]] |government_type = Monarki |title_leader = ? |currency = Mata uang emas dan perak |category= |footnotes = }} {{Sejarah Indonesia}} [[Berkas:Gunung-pulosari-1.jpg|thumb|300px|[[Gunung Pulosari]], tempat kramat kerajaan Sunda]]⏎ '''Kearajaan Sunda''' adalahnyaeta kearajaan yangnu pernah adaya di antara tahun 932 dannepi 1579 [[Masehi]] di bagiean BaratKulon [[pulau Jawa]] (Provinsi [[Banten]], [[Jakarta]], [[Jawa Barat]], danjeung seabagiean di [[Jawa Tengah]] sekarangayeuna). Kerarajaan ini bahkan pernah menguasai wilayah eu salain aya di [[Pulau Jawa]] kungsi oge nyicingan sabagiean selawetan [[Pulau Sumatera]]. Kearajaan ini bereu corakna [[Hindu]] danjeung [[Buddha]],<ref>Geoffrey C. Gunn, (2011), ''History Without Borders: The Making of an Asian World Region, 1000-1800'', Hong Kong University Press, ISBN 9888083341</ref> kemudianterus seakitar abad kea-14 diketahui kerajaan ini telah berkanyahoan boga ibu kota di [[Pakuan Pajajaran]] serta memiliki dua kawasan pejeung boga dua palabuhan utama di [[Kalapa]] danjeung [[Banten]].<ref name="Claude Guillot"/> Kearajaan Sunda runtuh setelah ibukota kerajaanaengeus di taklukan oleheun ku [[Maulana Yusuf]] paddina tahun [[1579]]. Se Samentara sebelumnyaaencanan keadua pealabuhan utama Kearajaan Sunda itu juga tel eta pernah dikuasai olehan ku [[Kearajaan Demak]] paddina tahun [[1527]], Kalapa ditaklukan oleheun ku [[Fatahillah]] danjeung Banten ditaklukan oleheunku [[Maulana Hasanuddin]]. == Cataetan seSajarah == [[Berkas: Padrao sunda kelapa.jpg| thumb | kanan | 150px |Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta.]] Meskipun nama Sunda disebutkan dalam prasasti, naskah-naskah kuno, dan catatan sejarah dari luar negeri, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa belum begitu banyak prasasti yang ditemukan di Jawa Barat dan secara jelas menyebutkan nama keKarajaannya, walau dalam berbagai sumber kesusastraan, secara tegas Sunda merujuk kepada nama kawasan.<ref name="Marwati">Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, (1993), ''Sejarah nasional Indonesia: Zaman kuno'', PT Balai Pustaka, ISBN 979407408X</ref> Diduga sebelum keruntuhannya tahTaun 1579, Kearajaan Sunda telah mengalami beberapa kali perpindahan pusat pemerintahannya, dimulai dari Galuh dan berakhir di Pakuan Pajajaran. === Catatan sejarah dari Cina === Menurut Hirth dan Rockhill,<ref>Hirth, F., Rockhill, W.W., (1911). ''Chao Ju-kua, His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries, entitled Chu-fan-chi''. St Petersburg</ref> ada sumber Cina tertentu mengenai Kearajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, inspektur perdagangan dengan negara-negara asing, [[Zhao Rugua]] mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, ''Zhufan Zhi'', yang ditulis tahTaun 1225, menyebutkan pelabuhan di "Sin-t'o". Zhao melaporkan bahwa: {{cquote2|"Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian, rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat dengan papan kayu yang diikat dengan rotan. Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun, dan memotong rambut mereka sampai panjangnya setengah inci. Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil, tetapi berat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban, Jawa Timur). Negara ini menghasilkan labu, tebu, telur kacang dan tanaman."}} Buku perjalanan Cina ''[[Shunfeng xiangsong]]'' dari sekitar 1430 mengatakan : {{cquote2|"Dalam perjalanan ke arah timur dari Shun-t'a, sepanjang pantai utara Jawa, kapal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai [[Sunda Kalapa|Kalapa]], mereka kemudian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu), akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melewati [[Sunda Kalapa|Kalapa]], melewati Indramayu, melewati Cirebon."}} === Catatan sejarah dari Eropa === Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kearajaan Sunda oleh kekuatan [[Kesultanan Banten]]. Salah satu penjelajah itu adalah [[Tomé Pires]] dari Portugal. Dalam bukunya ''[[Suma Oriental]]'' (1513 - 1515) ia menulis bahwa: {{cquote2|"Beberapa orang menegaskan bahwa keKarajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa; sebagian lagi mengatakan bahwa Kearajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya."}} === Temuan arkeologi === Di wilayah [[Jawa Barat]] ditemukan beberapa candi, antara lain [[Percandian Batujaya]] di Karawang (abad ke-2 sampai ke-12) yang bercorak [[Buddha]], serta percandian [[Hindu]] yaitu [[Candi Bojongmenje]] di Kabupaten Bandung yang berasal dari abad ke-7 (sezaman dengan percandian [[Dieng]]), dan [[Candi Cangkuang]] di Leles, Garut yang bercorak Hindu Siwa dan diduga berasal dari abad ke-8 Masehi. Siapa yang membangun candi-candi ini masih merupakan misteri, namun umumnya disepakati bahwa candi-candi ini dikaitkan dengan keKarajaan Hindu yang pernah berdiri di Jawa Barat, yaitu Tarumanagara, Sunda dan Galuh. Di [[Museum Nasional Indonesia]] di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut "arca [[Caringin]]" karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-[[residen]] Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah [[Gunung Pulosari]], dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa [[Shiwa]] Mahadewa, [[Durga]], [[Batara Guru]], [[Ganesha]] dan [[Brahma]]. Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10. Di situs purbakala [[Banten Girang]], yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan di abad ke-10. Banyak unsur yang ditemukan dalam reruntuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah. Situs-situs arkeologi lain yang berkaitan dengan keberadaan Kearajaan Sunda, masih dapat ditelusuri terutama pada kawasan muara [[Sungai Ciliwung]] termasuk situs Sangiang di daerah [[Pulo Gadung]]. Hal ini mengingat jalur [[sungai]] merupakan salah satu alat transportasi utama pada masa tersebut.<ref>Uka Tjandrasasmita, (2009), ''Arkeologi Islam Nusantara'', Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 979910212X</ref> === Naskah Kuno === Selain dari beberapa [[prasasti]] dan [[berita]] dari luar, beberapa karya sastra dan karya bentuk lainnya dari [[naskah]] lama juga digunakan dalam merunut keberadaan Kerajaaan Sunda,<ref>Noorduyn, ''Kearajaan Sunda dan Pakuan Pajajaran dilihat dari sumber-sumber prasasti dan naskah-naskah lama'', Panitia Seminar, 1991</ref> antaranya naskah [[Carita Parahyangan]], [[Pararaton]], [[Bujangga Manik]], naskah didaktik [[Sanghyang siksakanda ng karesian]], dan naskah sejarah [[Sajarah Banten]].<ref>Nana Supriatna, Mamat Ruhimat, Kosim, ''IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah)'', PT Grafindo Media Pratama, ISBN 9797583376</ref> == Berdirinya keKarajaan Sunda == Berdasarkan [[Prasasti Kebonkopi II]], yang ber[[bahasa Melayu Kuno]] dengan tarikh [[932]], menyebutkan seorang "Raja Sunda menduduki kembali tahtanya".<ref>Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, (1995), ''La principauté de Banten Girang'', Archipel, Vol. 50, pp 13-24</ref> Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Raja Sunda telah ada sebelumnya.<ref name="Marwati"/> Sementara dari sumber [[Tiongkok]] pada buku [[Zhufan Zhi]] yang ditulis pada tahTaun [[1178]] oleh [[Zhao Rugua]] menyebutkan terdapat satu kawasan dari ''San-fo-ts'i'' yang bernama ''Sin-to'' kemudian dirujuk kepada Sunda.<ref>Soekmono, R. (2002), ''Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2''. Kanisius. ISBN 979-413-290-X.</ref> Menurut [[naskah Wangsakerta]], naskah yang oleh sebagian orang diragukan keasliannya serta diragukan sebagai sumber sejarah karena sangat sistematis, menyebutkan Sunda merupakan keKarajaan yang berdiri menggantikan keKarajaan [[Tarumanagara]]. Kearajaan Sunda didirikan oleh [[Tarusbawa]] pada tahTaun 669 (591 Saka). Kearajaan ini merupakan suatu keKarajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi [[Banten]], [[Jakarta]], Provinsi [[Jawa Barat]], dan bagian barat Provinsi [[Jawa Tengah]]. Sebelum berdiri sebagai keKarajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahTaun, [[666]]-[[669]] M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan [[Dapunta Hyang Sri Janayasa]], yang selanjutnya mendirikan [[Kearajaan Sriwijaya]]. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun ([[612]]-[[702]]) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan [[Kearajaan Galuh]] yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan keKarajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai [[Cipakancilan]] dimana di daerah tersebut sungai [[Ciliwung]] dan sungai [[Cisadane]] berdekatan dan berjajar, dekat [[Kota Bogor|Bogor]] saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari [[Radite]] [[Pon]], 9 [[Suklapaksa]], bulan [[Yista]], tahTaun 519 Saka (kira-kira [[18 Mei]] [[669]] M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas keKarajaanya yaitu [[sungai Citarum]] (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur). == Wilayah kekuasaan == Berdasarkan naskah kuno primer [[Bujangga Manik]] (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta [[Hindu]] [[Sunda]] yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, [[Oxford University]], [[Inggris]] sejak tahun [[1627]]), batas Kearajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai [[Kali Brebes]]) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi [[Jawa Tengah]]. Kearajaan Sunda yang berikbukota di [[Pajajaran]] juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatera. Setelah Kearajaan Sunda diruntuhkan oleh [[Kesultanan Banten]] maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten.<ref name="Claude Guillot">{{cite book | last =Guillot | first =Claude. | publisher= Gramedia Book Publishing Division | title = The Sultanate of Banten | date = | year =1990 | id= ISBN 9794039225}}</ref> Menurut [[Naskah Wangsakerta]], wilayah Kearajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi [[Lampung]] melalui pernikahan antara keluarga Kearajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain keKarajaan Sunda oleh [[Selat Sunda]]. == Masa penurunan == Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin keKarajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan [[Maulana Yusuf]] dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan [[Prabu Surya Kancana]] dan [[Kearajaan Pajajaran]] runtuh.{{fact}} == Persekutuan antara Sunda dan Galuh == Putera [[Tarusbawa]] yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang [[Sanjaya]] dari [[Galuh]], sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.{{fact}} Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu [[Shima]] dari [[Kalingga]] di [[Jepara]]. Ayah dari Sanjaya adalah [[Bratasenawa]]/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu [[Wretikandayun]] dari putera bungsunya, [[Mandiminyak]], raja Galuh kedua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. [[Purbasora]] dan [[Sena]] sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.{{fact}} Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke [[Pakuan Pajajaran]], pusat Kearajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, [[Wretikandayun]], kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan [[Kearajaan Galuh]] dari [[Tarumanegara]]. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kearajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.{{fact}} Saat Tarusbawa meninggal (tahun [[723]]), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya [[Rarkyan Panaraban]] (Tamperan). Di [[Kalingga]] Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun ([[732]]-[[754]]), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwar(contracted; show full)anglangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-[[1156]]), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-[[1175]]). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada [[Pakuan Pajajaran]], kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin keKarajaan Sunda.{{fact}} Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Pra(contracted; show full) Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja.{{fact}} == Raja-raja K earajaan Sunda-Galuh == Menurut [[Prasasti Sanghyang Tapak]] yang berangka tahun 1030 (952 Saka), diketahui bahwa keKarajaan Sunda dipimpin oleh ''Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana Mandala Swaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa''. Prasasti ini terdiri dari 40 baris yang ditulis dalam [[Aksara Kawi]] pada 4 buah batu, ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, [[Sukabumi]]. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nesional dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama berisi tulisan sebagai berikut<ref name="H(contracted; show full) dianggap terletak di situs ibu kota [[Pajajaran]].<ref>[http://books.google.com/books?id=cLUfAAAAIAAJ&pg=PA54&lpg=PA54&dq=Batu+Tulis+inscription&source=bl&ots=G1uVi9KHi8&sig=fwfjS56T33DIXhL5uNG7kIPcl3g&hl=en&ei=yX1VTMDuBsGUrAffl73zAw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=6&ved=0CCEQ6AEwBTgU#v=onepage&q&f=false Indonesian palaeography: a history of writing in, Volume 4, Issue 1 By J. G. de Casparis]</ref> Prasasti ini dikaitkan dengan K earajaan Sunda. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam [[bahasa Sunda|bahasa]] dan [[aksara Sunda Kuno]]. Prasati ini dibuat oleh Prabu Sanghiang Surawisesa (yang melakukan perjanjian dengan Portugis) dan menceritakan kemashuran ayahandanya tercinta (Sri Baduga Maharaja) sebagai berikut: (contracted; show full)# Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-[[1521]]) # Prabu Surawisésa (1521-[[1535]]) # Prabu Déwatabuanawisésa (1535-[[1543]]) # Prabu Sakti (1543-[[1551]]) # Prabu Nilakéndra (1551-[[1567]]) # Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-[[1579]]) == Hubungan dengan keKarajaan lain == === Singasari === Dalam ''[[Kakawin Nagarakretagama|Nagarakretagama]]'', disebutkan bahwa setelah [[Kertanagara]] menaklukkan Bali ([[1284|1206 Saka]]), keKarajaan-keKarajaan lain turut bertekuk lutut, tidak terkecuali Sunda. Jika ini benar, adalah aneh jika di kemudian hari, [[keKarajaan Majapahit]] sebagai penerus yang kekuasaannya lebih besar justru tidak menguasai Sunda, sehingga nama Sunda harus termuat dalam [[Sumpah Palapa|sumpahnya]] [[Gajah Mada]].{{fact}} === Majapahit === Menurut [[Kidung Sunda]], Majapahit berusaha untuk menaklukan Kearajaan Sunda dan beberapa kali melakukan penyerangan tapi berhasil digagalkan. Upaya terakhir Mejapahit untuk memperluas kekuasaannya adalah dengan upaya penyatuan melalui perkawinan antara raja [[Hayam Wuruk]] dari Majapahit dan putri [[Dyah Pitaloka Citraresmi]] dari Kearajaan Sunda tapi usaha ini pun gagal dan berkahir dengan [[Tragedi Bubat|tragedi Bubat]]. === Eropa === Kearajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa [[Eropa]] seperti [[Inggris]],{{fact}} [[Perancis]]{{fact}} dan [[Portugis]]. Kearajaan Sunda bahkan pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun [[1522]], Kearajaan Sunda menandatangani [[Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis|Perjanjian Sunda-Portugis]] yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan [[Sunda Kelapa]]. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kearajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari [[Kesultanan Demak|Demak]] dan [[Kesultanan Cirebon|Cirebon]] <ref>{{cite book | last = | first = | author=Herwig Zahorka | publisher=Yayasan Cipta Loka Caraka | title =The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor | date = | year =2007 | url = | accessdate = }}</ref>(yang memisahkan diri dari Kearajaan Sunda). {{Kearajaan Sunda}} == Catatan kaki == {{reflist}} == Rujukan == * '''[[Aca]]'''. [[1968]]. ''Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi''. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung. * '''[[Ayatrohaedi]]'''. [[2005]]. ''Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" dari Cirebon''. Pustaka Jaya, Jakarta. * '''[[Edi S. Ekajati]]'''. 2005. ''Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta''. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1 * '''Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono''', "La principauté de Banten Girang" ("Kearajaan Banten Girang"), ''[[Archipel]]'', Tahun 1995, Volume 50, No. 50, halaman 13-24 * '''[[Yoséph Iskandar]]'''. [[1997]]. ''Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa''. Geger Sunten, Bandung. [[Kategori:Sejarah Sunda]] [[Kategori:Sejarah Nusantara]] [[de:Sunda (Königreich)]] [[en:Sunda Kingdom]] [[es:Reino de la Sonda]] [[fr:Royaume de Sunda]] [[jv:Karajan Sundha]] [[lt:Sunda]] [[map-bms:Kearajaan Sunda]] [[ms:Kearajaan Sunda Galuh]] [[nl:Koninkrijk Soenda]] [[pt:Reino de Sonda]] [[su:Karajaan Sunda]] [[zh:巽他王國]] All content in the above text box is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike license Version 4 and was originally sourced from https://su.wikipedia.org/w/index.php?diff=prev&oldid=400862.
![]() ![]() This site is not affiliated with or endorsed in any way by the Wikimedia Foundation or any of its affiliates. In fact, we fucking despise them.
|